Aku Mengenalnya Sudah Cukup Lama

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Mungkin sekitar tiga tahun atau lebih. Well, bukannya orang yang sedang jatuh cinta rasanya kita mengenal seseorang terasa lebih lama? Aku bertemu dengannya seperti adegan sinetron picisan yang sering diputar di layar televisi. Waktu itu, aku bergegas menuju kelas terakhir di hari Selasa. Aku melihat sekilas ke lengan kananku, oh, sudah pukul 4.30 sore. Pantas, kampus tampak jauh lebih sepi.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Aku berlari kecil sambil membawa dua buah buku di tangan kiri dan satu helai gorengan tempe mendoan di tangan kanan. Lalu entah darimana tiba-tiba kamu muncul dari arah berlawan. Kita bertabrakan dan saling bertatapan. Sialan, tempe mendoan aku jatuh ke lantai yang tampaknya belum dibersihkan sejak kemarin, padahal itu jatah makan malamku.

“Maaf, aku tak sengaja”. Ah, aku tak peduli dengan tatapan matamu yang bening di balik kacamata bundar, aku tak peduli dengan ponimu yang jatuh rapi, aku tak peduli dengan suaramu yang seperti berbisik tepat di telingaku, aku… Hm tapi wajah kikukmu membuatku tertarik. “Hi, boleh kenalan?”. Itu kata yang keluar pertama kali dari mulutku yang bergegas menghabiskan tempe mendoan yang masih tersisa di sela gigi. Ya, aku mengenal tempe mendoan sudah cukup lama juga, sih.

Sejak saat itu kita tak terpisahkan. Sarapan berdua berbagi nasi uduk di tangga kampus lantai 4 yang tersembunyi sambil berbagi earphone mendengarkan album favorit kita. Makan siang berdua disela-sela kesibukan tugas kampus yang terkadang membuat aku berpikir, memangnya menghitung algoritma akan terpakai nantinya? Toh aku tak pernah mau bekerja sesuai jurusanku nantinya. Atau malam-malam panjang dimana kita berjalan bersisian sambil melompati genangan air yang kadang kamu dengan sengaja menekan kaki kirimu ke kubangan, lalu air akan berhamburan ke sepatuku. Kesal. Tapi aku cinta.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Makanya aku heran kenapa sore ini kamu belum terlihat di lobby kampus? Biasanya di hari ketiga setiap minggu, kamu akan menjemputku dengan motor modifikasi, helm berwarna cokelat kulit hadiah ulang tahunku untukmu, dan jaket jeans yang kadang aku berpikir, kapan kamu terakhir mencucinya? Harusnya hari ini jatah kita untuk menelusuri jalanan Jakarta sambil merasakan rambutku beterbangan diterpa angin dan kedua tanganku memeluk erat di pinggang. Tapi dia belum muncul.

Awan di atas kepala semakin menggelap. Matahari sudah malu untuk menunjukkan sinarnya. Duh, air hujan mulai turun sedikit deras dan percikannya bisa aku rasakan di wajahku. Aku mengenalnya sudah cukup lama. Biasanya kamu tidak pernah terlambat datang menjemputku. Kamu di mana, ya? Aku bergegas membuka tas, mencari payung kecil transparan oleh-oleh dari Jepang yang ujungnya sudah mulai kusut, dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Sebaiknya aku menunggu di bawah pohon besar itu sambil berharap kamu akan melihatku dan kita bisa berteduh bersama-sama. Mungkin sambil makan cilok atau menceritakan hariku yang sebenarnya biasa saja.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Tapi entah kenapa kamu tidak pernah tiba. Iya, aku menunggumu sudah cukup lama. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika tiba-tiba petir menyambar pohon besar diatasku, beban berat menimpa tubuhku, dan aliran air hujan menjadi bewarna merah darah ke berbagai arah. Yang aku tahu, aku mengenalnya sudah cukup lama. Aku akan terus menunggumu di sini. Sampai suatu saat kamu akan menjemputku. Di musim hujan yang sama, berharap kamu tak akan membiarkan aku sendirian.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Kamu paling suka dengan senandungku. Aku mulai menyanyikan satu dua bait lagu, lalu tubuhku melayang-layang, dan menghilang diam-diam ke balik bekas pohon besar dengan sekuntum bunga mawar merah di sampingnya, yang kamu bawa di setiap musim hujan. Untukku. (*)

Berduka Itu Tidak Ada Tanggal Kadaluwarsa; Kita Tak Perlu Merasa Bersalah Untuk Itu

Tujuh belas tahun yang lalu, saya kehilangan ibu untuk selamanya. Waktu itu, saya baru akan menginjak usia 21 tahun dan saya masih ingat ketika kakak saya dengan sangat tiba-tiba di malam hari meminta saya segera pulang ke Jakarta. In short story, ketika saya sampai di rumah, mimpi terburuk saya dalam hidup telah terjadi. Dan dunia saya tidak pernah sama lagi, sampai detik ini.

Belajar untuk menghadapi rasa duka bukanlah persoalan yang mudah. Tetiba banyak hal kecil yang mengingatkan saya akan sosok ibu yang tersampaikan dengan begitu sederhana. Sesimpel momen penting orang lain dalam hidup seperti ulang tahun, wisuda, sampai makan malam keluarga di meja sebelah, yang seringnya membuat ada kekosongan yang semakin dalam di hati.

Tetapi di balik itu saya berusaha untuk tegar. Saya ingat seminggu setelah ibu saya tiada, saya harus segera bekerja karena terikat kontrak yang sudah saya tandatangani jauh hari. I need to be strong and I believe I can handle this. Saya ingin menunjukkan ke semua orang bahwa saya tegar dan bisa menghadapi situasi berduka itu.

Photo by Kendall Lane on Unsplash

Namun, ketika saya semakin berusaha untuk tegar, saya semakin menyadari bahwa saya hanya membohongi diri sendiri. Bahkan sampai pada satu titik, I was lost. Saya tidak ingat apa yang saya lakukan dalam beberapa masa. Saya tidak ingat materi kuliah yang disampaikan oleh dosen pascakejadian itu. Saya tidak ingat isi jawaban di soal-soal ujian tengah/akhir semester di kampus. Saya merasakan kehilangan yang semakin hari semakin pelik. Intinya, saya tidak pernah selesai berduka karena ternyata saya memang tidak pernah untuk memulai rasa duka saya. Saya terlalu fokus untuk menjadi sosok yang ‘dewasa’ dan bisa diandalkan. Saya tidak memberikan kesempatan untuk merasakan marah, kecewa, ataupun depresi, serta untuk menerima semua rasa itu.

Saya ingat, beberapa orang mengatakan bahwa semua akan jauh lebih mudah seiring berjalannya waktu. Sesungguhnya, saya tidak berpikir hal itu akan terjadi. Saya percaya bahwa rasa duka itu tidak ada tanggal kadaluwarsa; kita hanya menemukan cara yang berbeda untuk menghadapi rasa itu dalam hidup kita, dan kita tak perlu merasa bersalah untuk itu. Karena ada masa dimana saya berusaha menunjukkan saya tegar, tetapi setiap menceritakan kenangan tentang ibu saya, it’s still melts me like butter.

Jika saya boleh berbicara dengan diri saya sendiri pada masa itu, saya akan menyampaikan bahwa kamu tidak perlu merasa bersalah dengan kesedihan yang kamu miliki. Kamu berhak untuk berduka sesering yang kamu mau, selama mungkin yang kamu inginkan. Lebih penting lagi, saya akan bilang kepadanya untuk memberikan waktu merasakan semua yang ada di dalam hati, daripada menyembunyikan perasaan itu dari orang lain, serta berusaha tampak tegar.

Saya mengakui bahwa kenangan tentang ibu masih membuat hati ini terasa kosong dan rasa ini tidak akan pernah tergantikan. Tapi saya juga menyadari, bahwa semangatnya akan selalu hidup bersama saya – dalam setiap senyum saya, tulisan yang saya curahkan, dan kenangan-kenangan yang selalu ada di setiap orang yang mengenalnya.

Saya pun menyadari, kunci dalam menghadapi rasa duka akan kehilangan orang yang kita cintai adalah untuk tidak mencoba dan menyegerakannya berhenti selekas mungkin. Kesedihan tidak akan berhenti karena kehendak kita, meskipun banyak waktu yang kita habiskan dengan mencoba sekuat mungkin untuk meyakinkan diri sendiri. Saat ini, saya lebih mensyukuri dan mengingat semua kenangan-kenangan indah bersamanya, bukan lagi rasa sedih yang muncul setelahnya.

In the end, we always feel that we lost a loved one too soon. My mother gave me twenty one good years. For me, it is an amazing way to look at the positive as I went through a dark time.

Selama masih ada waktu, syukuri waktu yang kita miliki dengan orang-orang tercinta di sekeliling kita dan pilihlah berbahagia. (*)

Alasan Untuk Bahagia

Tiba-tiba ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun yang lalu, ketika masa-masa saya menjalani OSPEK (Orientasi Studi & Pengenalan Kampus) sewaktu menjadi mahasiswa baru di UGM dulu. Seperti biasa kami harus mengikuti orientasi mahasiswa tingkat Universitas sebelum mengikuti orientasi tingkat masing-masing Fakultas.

Pada masa itu saya bisa dibilang mahasiswa yang (sebenarnya) berkecukupan. Selain saya sudah menjalani kuliah setahun sebelumnya di salah satu kampus swasta dengan biaya dari orang tua sepenuhnya, saya juga sudah bekerja paruh waktu di Dagadu dan terkadang juga ditambah menjadi Sales Promotion Boy berbagai produk. Artinya secara materi, saya memilikinya lebih dari apa yang saya minta.

Tetapi terkadang masih timbul rasa iri pada diri saya. Kenapa ya teman-teman saya bisa punya handphone lebih kekinian? Kenapa saya hanya pakai kendaraan yang biasa saja dibandingkan beberapa teman yang lain? Dan masih banyak pertanyaan lainnya di kepala saya. Saya sering merasa tidak cukup. Saya merasa… kurang bahagia.

Hingga suatu hari, sepulang dari OSPEK, saya mengobrol panjang dengan salah satu mahasiswi dari kota kecil di Lampung. Sosoknya kecil, sederhana, senyumnya manis, dan anaknya sangat cerdas – karena ia bisa diterima tanpa tes masuk pada waktu itu. Sepanjang jalan boulevard kampus dengan seragam hitam putih dan senja yang mulai turun, kami bercerita sambil tertawa tentang banyak hal sampai pada titik entah mengapa kami berdiskusi mengenai biaya hidup di Kota Jogja. Kemudian ia mengatakan, “Iya, Mas Dimas. Jogja ini kota yang murah, ya… Saya dikirimin orang tua 75.000 per bulan dan rasanya cukup sekali. Untung saya tinggal sama paman, jadi malah bisa nabung sedikit”.

Wajah saya seperti tertampar, “Dia bisa bahagia dan bersyukur dengan dana bulanan yang tak banyak. Sedangkan aku? Duit sebesar itu mungkin bisa terbuang begitu saja untuk nongkrong di warnet dalam seminggu dan hal-hal tak penting lainnya. Dan itu pun kadang masih terasa kurang”.

wil-stewart-14962-unsplash

Saya terdiam. Pikiran saya seperti memasuki labirin dan terasa sesak. Saya merasa sangat tidak bersyukur atas apa yang sudah saya miliki pada masa itu. Tuhan menegur dengan caranya.

Esok harinya, saya pun pulang bersama teman pria yang satu kelompok di OSPEK. Saya mampir ke kosnya dengan fasilitas yang tidak lebih baik dari apa yang saya tempati (pada masa itu saya tinggal di kamar tidak begitu besar, ditemani kipas angin, dan satu kamar mandi luar yang harus berbagi dengan enam orang lainnya). Dia pun menceritakan betapa nyaman bisa tinggal di sana dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Lalu kami melanjutkan bercerita, sambil menyantap makan malam nasi bungkus di atas satu piring plastik yang dibawanya dari kota kecil di Jawa Tengah. Dia bersyukur atas apa yang ia miliki pada saat itu, bisa makan dengan cukup, bertemu teman-teman baru, apalagi dia juga bercerita bahwa tidak mudah untuk bisa kuliah karena banyak pengorbanan yang harus dilakukan olehnya dan keluarganya.

Kedua teman ini memiliki satu kesamaan. Mereka datang untuk berjuang dan menunjukkan bahwa mereka bisa menghadapi segala rintangan. Mereka mungkin tidak seberuntung banyak orang dalam hal materi, tetapi mereka kaya akan rasa bahagia.

Ada satu hal yang saya pelajari,

“I truly respect the people who stay strong even when they have every right to break down”.

Jadi, sampai saat ini, ketika saya merasa jatuh atau mendapatkan jauh dari apa yang saya harapkan, saya akan melihat dan belajar dari sekitar, ternyata banyak hal kecil yang sepatutnya dapat membuat kita merasa kaya akan rasa bahagia.

Bahagia bisa minum kopi sambal bercerita di pagi hari, bahagia dikelilingi teman-teman kantor yang luar biasa, bahagia melihat keluarga yang sehat, dan bahagia karena kita memang akan selalu punya alasan untuk bahagia, baik dalam keadaan sulit atau pun senang.

Semua orang pantas untuk bahagia. Aku, kamu, dan mereka. (*)

Ini Tentang Hidup

Hidup bukanlah tentang menjadi siapa yang paling sukses. Bukan tentang seberapa banyak teman yang kita miliki. Atau bukan tentang berapa bilangan orang yang mengenal kita. Pun bukan tentang seberapa diterima atau tidaknya kita. Bukan tentang apakah kita memiliki rencana di akhir pekan ini. Atau apakah kita masih sendiri atau tidak? Ini bukan tentang siapa yang dekat dengan kita atau bahkan bila kita tak pernah bersama siapa pun. Ini bukan tentang siapa keluarga kita atau berapa banyak uang yang kita miliki. Bukan juga tentang mobil atau rumah yang kita punya. Atau kemana kita mendapatkan pendidikan. Atau juga seberapa jauh kita melakukan perjalanan. Bukan.

Ini bukan tentang seberapa menariknya kita. Atau pakaian apa yang kita kenakan, sepatu apa yang kita pakai, atau jenis musik apa yang kita dengarkan. Ini bukan tentang apakah rambut kita lurus, keriting, bergelombang, atau bahkan tak memilikinya sama sekali. Atau apabila kulit kita terlalu terang atau terlalu gelap.

Ini bukan tentang nilai yang kita dapatkan, seberapa pintar kita, atau seberapa jauh orang lain berpikir seberapa pintar kita. Atau jika guru/dosen atau atasan menyukai kita, atau jika dia yang kita taksir menyukai kita atau sebaliknya. Atau di kelompok mana kita berada atau seberapa bagus kita dalam olahraga. Ini bukan tentang apa yang tertulis di ‘selembar kertas’ tentang kita yang seakan-akan mewakili keseluruhan hidup kita.

nicholas-kwok-225380-unsplash

Tetapi hidup adalah tentang siapa yang kita cintai dan siapa yang kita sakiti. Ini tentang siapa yang membuat kita sukacita atau tidak bahagia. Ini tentang menjaga atau mengkhianati kepercayaan. Ini tentang persahabatan, tentang apa yang kita katakan, mungkin menyakitkan atau membesarkan hati. Tentang memulai gunjingan dan berkontribusi pada gosip kecil di sekitar. Ini tentang opini kita terhadap orang lain dan kepada siapa kita sebarkan.

Ini tentang siapa yang kita abaikan dengan sengaja. Ini tentang kecemburuan, ketakutan, rasa sakit, ketidaktahuan, dan prasangka yang terkadang tidak pada tempatnya. Ini tentang rasa benci dan sayang, lalu membiarkannya tumbuh dan menyebarkannya.

Tapi yang terpenting, ini tentang menggunakan hidup kita untuk menyentuh dengan lembut atau malah menyesatkan hati orang lain sedemikan rupa, karena hal ini tidak akan terjadi dengan sendirinya. Hanya kita yang memilih cara hati ini dipengaruhi dan mempengaruhi. Memilih dengan bijak, itulah yang menjadi inti dari hidup. Ini tentang hidup. Pertanyaannya, apakah kita sudah memilih hal yang benar sesuai hati nurani? (*)

 

Kamu Pantas untuk Hidup

Kamu pantas untuk hidup. Bahkan tidak hanya itu, kamu layak untuk bahagia. Tersenyum. Tertawa. Terbang lebih tinggi. Dan kamu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan berarti, hidup tanpa rasa sesal, dan tumbuh penuh cinta.

Aku tahu kamu sedang berjuang. Sangat berjuang. Mungkin, kamu merasa tidak berharga. Rasanya, kamu tak layak untuk menjalani hidup dengan bahagia. Hidup yang penuh makna. Hidup seperti yang kamu inginkan. Aku tahu, kamu merasa tidak seharusnya menjalani semua ini.

Sungguh, aku tahu kamu sedang merasa sangat sedih. Walau kamu tak ingin lagi terpuruk dalam kepedihan. Kamu tidak ingin merasakan ini selamanya. Bukankah selamanya artinya tidak akan ada titik untuk berhenti walau sejenak? Kamu lelah akan tangis. Kamu tidak ingin merasakan kekosongan di dalam hati.

Dan aku tahu kamu sedang merenung, ada banyak hal yang lebih pantas daripada menjalani perasaan ini.

Aku tahu kamu ingin menyerah. Berhenti lalu pergi. Kamu berkata dalam hati bahwa semua ini tak seharusnya kamu alami.  Aku tahu kamu ingin mengakhirinya. Kamu ingin segalanya segera berlalu. Kamu berharap untuk dapat tidur selamanya.

Tapi tolong, percayalah, bahwa kesedihan ini bersifat sementara. Rasa sakit ini bersifat sementara. Penderitaan dan kesedihan yang kamu rasakan ini tidak selamanya. Ini tidak selamanya.

Photo by Dominik Schröder on Unsplash

Kamu layak untuk hidup. Kamu pantas untuk tersenyum. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang kamu bayangkan. Kamu layak untuk merasakan semua hal yang ditawarkan kehidupan ini untukmu.

Hidup ini sungguh indah dan kamu lebih dari pantas untuk menjalaninya.

Kamu berarti, sungguh berarti. Dan kamu satu-satunya di dunia ini. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kamu bukan siapa-siapa. Jangan pernah berpikir bahwa kamu tak layak untuk hidup. Karena kamu pantas. Kamu layak. Kamu harus tetap hidup, terus melangkah, dan meraih yang kamu impikan.

Jangan. Jangan pernah berhenti. Jangan menyerah pada diri sendiri. Jangan biarkan kesedihan dan rasa sedih mengambil alih asamu. Carilah pertolongan. Bicaralah dengan teman yang kamu tahu tak akan menghakimi dan selalu percaya akan kamu. Hubungilah seseorang. Teruslah hidup dan percayalah bahwa nanti akan berlalu dengan caranya sendiri.

Kamu luar biasa. Kamu adalah satu alasan bagi orang lain untuk bahagia dan kamu tak menyadarinya. Tapi suatu hari nanti, kamu akan terbangun, lalu rasa sedih ini akan mereda. Suatu hari kamu akan terbangun dalam pelukan orang yang kamu cintai, merasa aman, dan dicintai sepenuh hati. Suatu hari kamu akan terjaga dan tersadar bahwa untuk terus menjalani hidup adalah pilihan yang tepat. Untuk tidak berputus asa akan dirimu sendiri. Dan suatu hari kamu akan merasa sangat bersyukur karena kamu tidak pernah mematahkan semangatmu dan percaya akan dirimu sendiri.

Tarik napas dalam-dalam. Pandangilah langit dan dengarkan burung-burung bernyanyi untukmu. Hubungi orang yang kamu sayangi dan katakan perasaanmu. Menangislah apabila perlu. Tidurlah dan biarkan tubuhmu merasa nyaman. Dengarkan lagu kesukaanmu berulang kali dan katakan pada diri sendiri bahwa rasa sedih ini tak akan berlangsung selamanya.

Percayalah, kamu tidak akan terus merasakan hal ini. Kamu tidak akan selalu merasakan kepedihan ini. Jadi bangkitlah, sekarang. Tetap bernapas. Teruslah mencari pengalaman baru. Cintailah orang-orang disekelilingmu. Tetaplah tersenyum. Angkat dagumu.

Dan jangan pernah berhenti percaya akan dirimu sendiri. Jangan pernah menyerah. Kamu berhak menjalani kehidupan ini. Kamu berhak akan semesta ini. Dan kamu layak menjalani kehidupan yang indah dan menakjubkan. Dan berbahagia. Suatu hari, aku harap kamu percaya itu. Karena aku percaya akan kamu. Selalu.(*)

Disadur dari You Deserve To Live by Lauren Jarvis-Gibson

Kenapa Tidak Pernah Ada Yang Bilang?

Dari jauh aku menatap matanya. Kenapa tidak pernah ada yang bilang bahwa bola mata bisa berbicara? Aku bisa melihat warna pelangi, awan yang menari, sampai luruh hujan yang sepi – semua dari kedua matanya yang tak pernah bosan diam-diam aku pandangi, siang malam aku coba sesaki.

Aku tak pernah punya nyali sekedar untuk menyapanya sejak beberapa bulan lalu dia bergabung di kantor ini, apalagi sekadar basa-basi, “Cuaca hari ini sungguh cerah, ya!” yang kemudian aku lanjutkan dalam hati, “secerah rona wajahku setiap kulihat senyum tipismu sambil menatap layar smartphone-mu”. Membayangkan kamu berbicara berjarak dengan orang lain saja rasanya hati ini bergejolak akan rasa cemburu. Tapi siapalah aku, bahkan untuk punya rasa rindu saja aku malu.

Kenapa tidak ada yang pernah bilang bahwa jatuh hati itu nyata? Seandainya bisa aku memaksamu untuk menemaniku setiap waktu menyesap kopi di pagi hari, berlari-lari kecil lalu bergandengan tangan sambil menghindari hujan rintik, juga menyusuri trotoar di bawah kelip lampu-lampu gedung saat malam hari sembari bercerita hal kecil apa yang kamu alami hari ini dan merayakan hal besar karena aku dan kamu, tidak akan terpisahkan.

Tapi, aku tak pernah punya kuasa untuk menyampaikannya. Aku merasa, suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya. Dalam hening, aku menjagamu, dalam riuh aku memujamu. Harapan memang diciptakan untuk tumbuh secara cuma-cuma, bukankah itu sejatinya menjadi manusia?

Terkadang aku berharap, waktu-waktu panjangmu di kantor ini bisa aku penggal. Setengah untuk menatap pijar monitor laptopmu, setengah lagi untuk merekat jemarimu di sela-sela jemariku.

Lalu di ujung malam, tanpa sengaja kamu menatap fotoku bersama kedua sahabatku yang terpajang usang di sudut dinding kantor. Kamu mengamatinya dengan seksama, sungguh lama. Aku sedikit tersipu ketika menyadari itu. “Siapa dia yang di tengah, kenapa aku tak pernah melihatnya di kantor ini, ya?” Sedikit berteriak kamu bertanya tentang aku kepada seseorang di ujung ruang. Wajahku menghangat.

“Oh… Dia dulu karyawan lama, salah satu yang terbaik yang pernah ada, tapi… setahun yang lalu ketika pulang makan siang di luar kantor, dia tertabrak pengendara mobil yang tak bertanggung jawab ketika menyebrang jalan. Dia tak selamat…”.

Kamu terdiam. Aku tercekat. Lalu semua menjadi gelap. Pada akhirnya, aku dan kamu menyelami kesendirian. Bersama. Di dunia berbeda.

Sial, kenapa tidak pernah ada yang bilang jatuh cinta itu menyakitkan? (*)

Jakarta, 9 Desember 2018.

Sepotong Kisah Cinta

Aku dan dia bersahabat. Melewati ribuan tenggelamnya matahari. Menjejaki ratusan ruang. Dan entah berapa puluh tetes air matanya yang telah tumpah di pundakku. Aku tetap di sini, saat ini. Memandang kedua kerling matanya yang indah dan bulat sempurna.

“Aku akan pergi….”

Kutercekat dalam diam. Lidahku seperti tertusuk paku. Selidik mataku meyakinkan ucapannya yang membuat hatiku luruh. Tapi dia tetap disitu, memandangku dengan tajam. Lalu terdiam dengan jeda-jeda yang aku tak bisa mengartikan.

Hanya jalinan kalimat pendek yang keluar dari bibirku,

“Kita akan selalu bersahabat, kan? Tidak kurang, tiada lebih. Kamu lihat jemari-jemariku ini? Ruang di antaranya hanya akan ada untuk mengenggammu, entah di saat gundah ataupun bahagia. Bukankah itu yang engkau mau?”

Dia hanya mengangguk pelan. Tetap diam. Dalam lirih dia bertanya,

“Boleh kah aku meminta satu hal padamu?”

“Apa itu? Katakan saja, aku tak akan pernah mengecewakanmu.”

“Ambil ini. Di tanganku ada dua helai kertas kosong. Aku ingin kamu -dan aku- menuliskan janji persahabatan kita. Tapi berjanjilah, apa yang tertulis di dalamnya hanya akan kita baca di hari pernikahan salah satu dari kita.”

Matanya menatapku dengan penuh kesungguhan. Aku memandangnya dengan sarat keraguan.

“Maksud kamu?”

“Lakukan saja. Aku ingin kamu menulisnya. I’ll keep the promise letter until mine or your wedding day…

Lalu, dia, dalam sunyi mulai menulis:

Aku tak mampu berjanji bahwa aku tak akan jatuh cinta padamu karena… Aku telah jatuh cinta padamu. 

Aku tak mampu berjanji bahwa kita hanya akan bersahabat karena… Aku ingin selalu bersamamu selamanya, di setiap detik dari selamanya. 

Aku tak mampu berjanji akan hidup bersama orang lain karena… Aku hanya ingin berdampingan denganmu seorang. Tak lain.

Ku menatap lagi kedua matanya, menarik nafas tipis, dan aku pun mulai menulis:

Aku berjanji untuk tak akan pernah jatuh cinta padamu.

Aku berjanji kita akan selalu bersahabat selamanya, tidak lebih.

Dan aku berjanji, aku akan menikah dengan seseorang selain kamu sebagai pasangan jiwaku.

***

10 tahun kemudian.

Hari ini, hari pernikahannya. Mobil warna hitam elegan dipenuhi rangkaian bunga lili putih telah menepi di pintu masuk gedung pernikahan. Semua orang menantinya menuju pelamin, tetapi wanita cantik itu bersembunyi dalam hening, membaca satu demi satu goresan kalimat di dalam surat yang pernah aku tulis di masa lalu. Dalam senyap, dia menangis pelan.

Entah apa yang dirasakannya, wanita itu akhirnya yakin untuk berjalan menuju ruang ijab kabul. Lalu dengan anggun menghampiri calon suaminya, mengenggam erat jemarinya, dan air mata mengalir halus di pipi.

Photo by James Bold on Unsplash

Wanita itu, akhirnya akan menikahi pria impiannya. Sahabatnya. Cinta sejatinya. Yaitu aku.

“Kamu tidak apa-apa, sayang?”, tanyaku.

“Aku baru saja membaca surat perjanjian yang engkau tulis…”

“Apakah…?”, aku mulai bertanya ragu.

Wanita itu tersenyum dan membisikkan kata, “Aku juga sangat mencintaimu.”

Tepat, di bawah surat yang kutulis, tertulis sebaris pesan:

“Semua janji yang kutulis di atas adalah semua janji yang akan aku langgar. Sungguh. Aku sangat mencintaimu.”

Jakarta, 13 Desember 2008.

Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you was beyond my control.” – unknown