The Goodbye Party

Kerlip lampu jalanan Jakarta berpendar hambar di antara gedung-gedung tinggi yang tampak kosong dan letih. Aku memejamkan mata, mendengarkan sepenggal lagu asing yang samar-samar berdesing di kedua telinga ditingkahi suara deru mobil. SIAL! Bayangan sosok dia terus-menerus berputar, menari-nari bagaikan peri neraka yang tak kuasa kusingkirkan dari pelupuk. Dia yang meninggalkan, dia yang merayakan tragedi, dan dia yang merinai kegetiran. Aku masih hidup, tapi jiwaku mati.

Aku tak tahan mendengarkan lagi lagu getir yang mengalun pelan di radio. Kusingkap lengan kiriku, menekan sekilas satu tombol, dan mulai terdengar suara penyiar dengan nada hiperbola,

Listeners, udah denger belom lo kalo bentar lagi di Jakarta bakal ada acara yang gila banget! Gue gak nyangka ada orang yang berani bikin acara sekontroversial ini, edan pokoknya! Nama acaranya aja serem banget, Bunuh Diri Massal 2008! Iya listeners, bunuh diri, ngilangin nyawa lo secara sepihak atas kemauan lo. Tertarik? Gampang men… Selama lo cowok alias laki-laki, dan ngerasa udah gak punya hati lagi, you should join them! Tapi gue sendiri gak pengen lo ikutan, ya! But, kalau lo penasaran, keterangan lebih lanjut telpon aja Ketua Panitianya, nomernya ….”

Aku tersentak. Kuhentikan mobil secara mendadak. Tak peduli dengan teriak-teriakan nama binatang dari pengendara di belakang, kuambil handphone dan dengan sigap mulai menyimpan nomer kontak Ketua Panita Bunuh Diri Massal 2008. Entah kenapa otak dan hatiku secara reflek bersimbiosis menyuruhku untuk melakukannya. Aku laki-laki, tentu saja. Aku gak punya hati lagi, sungguh jelas, hatiku telah lama hilang. Tapi mati? Gila, itu di luar bayanganku. Walau kadang pernah terlintas, jika aku mati, siapa sajakah yang akan menangisi aku, apakah aku punya secret admirer, bunga apa yang tertabur di pusaraku, dan apakah dia akan datang dan tersenyum menang akan kematianku?

Setelah berhari-hari aku mencari keputusan konklusif, dan tentu saja aku tak layak bertanya kepada Tuhan, disini lah sekarang aku berada. Di lantai 15 gedung megah di tengah kota biadab Jakarta. Finance Director, tulisan itu terukir apik di pintu ruang kerjaku. Seakan tak terusik suara deringan telepon dari penjuru kantor, aku hanya menatap lekat formulir pendaftaran Bunuh Diri Massal 2008. Alasan…. Alasan apa yang harus aku tulis? Kenapa mati harus dengan alasan? Apakah kita lahir di dunia juga butuh alasan? I’m always thinking; life is not a matter of reason, but a matter of choice. Ah sudahlah! Kuambil pena berlapis emas, hadiah sebagai lulusan terbaik sewaktu aku kuliah MBA di US, dan mulai menulis alasan yang realistis buatku, “Saya cuma mau mati. MATI! HIDUP MATI!” Kutulis dengan kasar dan penuh amarah. Sekali lagi, mati tak pernah perlu alasan. Sama seperti ketika dia meninggalkanku.

***

Ya, namaku Andrean. Lengkapnya Andrean Tanoeatmajda. Anak konglomerat dengan kekayaan nomer urut 21 di Asia versi majalah Forbes. Tidak ada yang kurang dari sosokku. Pintar, karir yang bagus dan sialnya, aku punya wajah yang rupawan. Siapa suruh wanita-wanita itu jatuh cinta kepadaku? Toh aku tak pernah memohon hati mereka. Barak hatiku terlanjur penuh dengan sumpah serapah, sampai-sampai tiada lagi tempat untuk satu kata cinta. Hei wanita! Laki-laki bukanlah sepatu, yang kalian bisa pilih sesuka hati, dipakai, diinjak, lalu setelah bosan, hanya teronggok berdebu di sudut ruang. Tak sadarkah kalian bahwa kami makhluk berdaging yang punya hati?

Sungguh aku tak dendam. Aku hanya mencari ketenangan. Lelah berlari di antara desingan waktu yang berpendar terlalu lambat. Pelan-pelan ku ambil secarik kertas putih di laci, dan kumulai menuliskan surat ini,

Surat selamat tinggal untuk semua,

Tolong, tulis jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku ini dan letakkan di atas pusaraku bila aku telah terbujur mati.

Cinta itu seperti hujan… Aku tak pernah paham seberapa deras tetes air itu akan terus jatuh dan entah sampai kapan pula hujan itu akan membasahi bumi. Apakah kalian tahu kapan cinta akan datang dan pergi dari hatimu? Jangan tanya aku, aku tak pernah tahu. Karena hujan itu masih terus membasahi hatiku tanpa pesan.

Cinta itu seperti musik… Aku bisa bersenandung lagu yang sama dan menari tanpa dahaga. Tapi kapankah musik cinta itu akan terhenti? Aku tak tahu, karena aku masih terus menari walau musik cinta itu telah berakhir.

Cinta itu seperti sebatang rokok… Sungguh manis terasa di bibir pada awal sentuhannya, terlena dalam setiap hela hembusannya, tapi semua akan terhenti seketika bila aku tak mampu mempertahankan bara yang tersisa. Apakah kalian tahu bagaimana cara mempertahan nyala cinta seseorang yang kita cintai?

Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu, cinta itu hanyalah penderitaan yang aku nikmati. Dan aku memilih mengakhiri penderitaan itu. Cintaku akan abadi tapi kematian lebih abadi.

Selamat tinggal,

Andrean


22 September 2008 jam 10 pagi. Ini saatnya, baliho dan spanduk-spanduk perayaan kematian di Gedung DPR/MPR luar biasa marak, malah bisa dibilang terlalu berlebihan. Warna merah darah mendominasi dekorasi seperti pemuliaan kematian berjamaah.

Sekilas aku melihat sang Ketua Panitia BDM 2008, ah tak layak sepertinya bila aku tak sekedar menyapanya, memberinya penghormatan terakhir yang layak dia dapatkan.

“Saatnya telah datang, kamu gak ada rasa takut bos?” Aku bertanya penuh rasa penasaran.

“Ketakutan itu hanya milik pengecut. Cinta telah menghapus rasa takut itu.”

“Sungguh bodoh orang yang mati karena cinta.”

“Lebih bodoh lagi orang yang hidup tanpa cinta.”

“Jadi… Kita hanyalah orang bodoh yang tetap akan bodoh ketika mati.”

“Setidaknya kita menjadi orang yang bodoh yang bisa mencintai.”

Dia tersenyum dan aku pun mengangguk setuju.

Kutulis pesan terakhir untuk dia, wanita yang telah membunuh kata cinta,

Lebih baik kubiarkan engkau mencuri hatiku. Tolong, jika engkau bosan dengan hatiku, kuburkan dia di sebelah hatimu. Tak perlu nisan. Karena memang tak ada yang perlu engkau kenang.

Ah! Aku tak sabar lagi untuk mengejang, menggelinjang, dan diam. Aku ingin mati di kursi dewan terhormat. Tanpa cinta. Tanpa jeda. Hanya ingin mati bersama dia. Dia yang tercabik hatinya oleh sosok wanita yang sama. Dia… Ketua Panitia Bunuh Diri Massal 2008. (*)

Note: Cerita pendek yang saya tulis ini merupakan side story dari cerita serial 7 episode berjudul “Bunuh Diri Massal 2008” karya Fajar Nugros & Alanda Kariza dan telah dibukukan menjadi novel pada masanya, termasuk tulisan ini.

Berjanji Untuk Terus Menulis

Kehilangan tidaklah pernah menyenangkan. Begitu pun ketika hari ini saya mendapatkan kabar dari teman-teman baik saya yang menjadi mentor, senior, dan rekan di koran tiga jaman, BERNAS Jogja. Media cetak tercinta kami tutup untuk selamanya.

Saya sangat suka membaca koran sejak kecil, walau terdengar aneh, tetapi bagi saya yang tinggal bertahun-tahun di kota kecil – bahkan sangat jauh terpencil, membaca koran membuka mata saya bahwa dunia ini sungguh luas. Sangat luas.

Ketika saya sekolah di Jogja, koran BERNAS membuat saya jatuh cinta dengan gaya penulisannya. Selain itu, satu hal yang membuat saya terpana, mereka memiliki halaman yang setiap minggunya diisi oleh tulisan para pelajar terpilih di kota itu. Saya rajin membaca liputan mereka, opini menarik khas remaja yang mereka tulis, cerita pendek, sampai dengan puisi. Saya takjub, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki kesempatan semenarik ini? Sejak saat itu, saya memutuskan saya harus bisa menjadi bagian dari mereka.

Pendek cerita, saya beruntung bisa menjadi salah satu wartawan pelajar setelah melewati serangkaian proses seleksi dan menjadi salah dua siswa SMP yang mereka terima (karena tujuan awalnya, halaman GEMA – BERNAS untuk mereka yang duduk di bangku SMU). Bangga! Kapan lagi saya bisa belajar membuat tulisan, mewawancara tokoh, mengenal komputer, membuat layout serba manual sampai tengah malam, dan yang paling penting, saya bisa menemukan keluarga baru. Apalagi mengenal kakak-kakak berseragam putih abu-abu yang mau mengajak saya berdiskusi dan bekerja sama (di mata saya mereka selalu tampak sangat keren dengan seragam itu!).

Pada masa itu, tidak ada cerita sepulang sekolah saya akan langsung pulang ke rumah. Tetapi saya malah tidak sabar untuk ke BERNAS lalu menuju ke ruang sempit di pojokan dan berbagi ide bersama teman-teman GEMA lainnya, tentang apa yang akan kami tulis, siapa yang bertugas, dan seterusnya. Tulisan kami jauh dari sempurna, didikan dari kakak-kakak wartawan menempa kami untuk bisa menulis lebih baik, setiap minggunya. Tidak harus untuk menjadi yang terbaik, tetapi kami dilatih untuk menjadi pencerita yang memahami dengan benar penulisan sesuai kaidahnya. Sejak saat itu pula, buku yang saya inginkan tidak lagi hanya buku cerita, tetapi Kamus Besar Bahasa Indonesia yang pada masanya tidaklah murah untuk pelajar dengan uang saku hanya 30 ribu per bulannya.

Gagasan untuk memberi kami ruang untuk belajar sebenarnya jauh dari untung bagi media sebesar BERNAS. Pada masanya, tentu halaman kami bisa dijual dengan harga tinggi untuk iklan, belum lagi banyak waktu yang harus diluangkan oleh wartawan senior untuk membimbing kami. Anak-anak berseragam sekolah yang penuh rasa ingin tahu – tetapi terkadang tentu saja menganggu konsentrasi mereka bekerja yang tak mengenal waktu.

Tulisan saya sendiri entah berapa kali dimentahkan atau direvisi berkali-kali karena jauh dari layak terbit. Bahkan saya masih ingat, ketika saya ditugaskan menjadi koordinator liputan tentang musik, tulisan saya dijahit sana-sini oleh teman-teman di GEMA. Pada masa itu, saya belajar kerjasama, rasa kekeluargaan yang tinggi, integritas untuk menyelesaikan tugas, saling menerima masukan, dan keinginan belajar yang tak pernah berhenti. Mereka semua adalah mentor sekaligus sahabat yang luar biasa bagi saya. Sampai saat ini.

Seiring waktu, kami sudah mulai bisa menulis dan rasanya bangga luar biasa ketika tulisan kami bisa dibaca oleh warga Jogja pada masa itu. Saya sendiri masih ingat, senyum lebar ayah saya ketika membaca tulisan pertama saya muncul di BERNAS dan terpampang nama lengkap saya di sana sebagai penulisnya. Tulisan dari seorang siswa SMP, bercelana pendek biru, yang bahkan kalau kemalaman, saya harus meminta jemput kakak saya karena jam 7 malam sudah tidak ada lagi angkot.

Beberapa tahun kemudian (bahkan sampai saat ini), saya masih memendam hasrat untuk menjadi wartawan. Walau sempat menjalani sebentar profesi ini, tetapi jauh lebih banyak teman-teman Veteran GEMA yang mendedikasikan sepenuhnya hidup meereka menjadi wartawan, penulis buku, pendidik, dan berbagai profesi yang terkait. Aku sungguh bangga akan karya mereka. Bahkan sampai akhir hayat mereka setia menjalankan profesinya. Seperti sahabat kami almarhumah Femi Soepemo yang berpulang ketika bertugas meliput di pesawat Sukhoi yang jatuh beberapa tahun yang lalu dan almarhum Mas Kristupa Saragih yang meninggalkan kami ketika sedang melakukan tugas memotret di luar kota.

Menutup cerita, saya mengutip tulisan senior saya di GEMA BERNAS, Mbak Emmy Kuswandari,

“Dan saya berjanji untuk tetap menulis, sebagai penghargaan pada sekolah pertama. Kemampuan yang tak boleh hilang. Karena lama-kelamaan ia akan menyatu dalam darah saya. Dari pelajar sekolah yang tak saling mengenal, kini kami menjadi saudara. Sekolah yang kemarin dan membentuk saya menjadi seperti hari ini. Terima kasih, BERNAS!

Ya, saya akan tetap menulis. Terus menulis. Lalu saya teringat kata Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah”. (*)

Kamu Pantas untuk Hidup

Kamu pantas untuk hidup. Bahkan tidak hanya itu, kamu layak untuk bahagia. Tersenyum. Tertawa. Terbang lebih tinggi. Dan kamu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan berarti, hidup tanpa sesal, dan kehidupan yang penuh cinta.

Aku tahu kamu sedang berjuang. Kamu merasa tidak berharga. Rasanya, kamu tak pantas untuk menjalani hidup dengan bahagia. Hidup yang penuh makna. Hidup yang seperti kamu inginkan. Aku tahu, kamu merasa tidak seharusnya menjalani semua ini. Kamu merasa tidak akan pernah lagi tersenyum.

Sungguh, aku tahu kamu sedang merasa sangat sedih. Walau kamu tak ingin lagi terpuruk dalam kepedihan. Kamu tidak ingin merasakan ini selamanya. Kamu lelah akan menangis. Kamu tidak ingin merasakan kekosongan di dalam hati.

Dan aku tahu kamu sedang merenung, ada banyak hal yang lebih baik daripada menjalani perasaan ini.

Aku tahu kamu ingin menyerah. Kamu berkata dalam hati bahwa semua ini tak seharusnya kamu alami. Bahwa kesedihan itu tidak akan pernah pergi. Aku tahu kamu ingin mengakhirinya. Kamu ingin segalanya segera berlalu. Kamu berharap untuk dapat tidur selamanya.

Tapi tolong, percayalah, bahwa kesedihan ini bersifat sementara. Rasa sakit ini bersifat sementara. Penderitaan dan kesedihan yang kamu rasakan ini tidak selamanya. Ini tidak selamanya.

Photo by Dominik Schröder on Unsplash

Kamu layak untuk hidup. Kamu pantas untuk tersenyum. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang kamu bayangkan. Kamu layak untuk merasakan semua hal yang ditawarkan kehidupan ini untukmu.

Hidup ini sungguh indah dan kamu lebih dari pantas untuk menjalaninya.

Kamu berarti, sungguh berarti. Dan kamu satu-satunya di dunia ini. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kamu bukan siapa-siapa. Jangan pernah berpikir bahwa kamu tak layak untuk hidup. Karena kamu pantas. Kamu layak. Kamu harus tetap hidup, terus melangkah, dan meraih yang kamu impikan.

Jangan pernah berhenti. Jangan menyerah pada diri sendiri. Jangan biarkan kesedihan dan rasa sedih mengambil alih asamu. Carilah pertolongan. Bicaralah dengan teman yang kamu tahu tak akan menghakimi dan selalu percaya akan kamu. Hubungilah seseorang. Teruslah hidup dan percayalah bahwa nanti akan berlalu dengan caranya sendiri.

Kamu luar biasa. Kamu adalah satu alasan bagi orang lain untuk bahagia dan kamu tak menyadarinya. Tapi suatu hari nanti, kamu akan terbangun, lalu rasa sedih ini akan mereda. Suatu hari kamu akan terbangun dalam pelukan orang yang kamu cintai, merasa aman, dan dicintai sepenuh hati. Suatu hari kamu akan terjaga dan tersadar bahwa untuk terus menjalani hidup adalah pilihan yang tepat. Untuk tidak berputus asa akan dirimu sendiri. Dan suatu hari kamu akan merasa sangat bersyukur karena kamu tidak pernah mematahkan semangatmu dan percaya akan dirimu sendiri.

Tarik napas dalam-dalam. Pandangilah langit dan dengarkan burung-burung bernyanyi untukmu. Hubungi orang yang kamu sayangi dan katakan perasaanmu. Menangislah apabila perlu. Tidurlah dan biarkan tubuhmu merasa nyaman. Dengarkan lagu favoritmu berulang kali dan katakan pada diri sendiri bahwa rasa sedih ini tak akan berlangsung selamanya.

Percayalah, kamu tidak akan terus merasakan hal ini. Kamu tidak akan selalu merasakan kepedihan ini. Jadi bangkitlah, sekarang. Tetap bernafas. Teruslah mencari pengalaman baru. Cintailah orang-orang disekelilingmu. Tetaplah tersenyum. Angkat dagumu.

Dan jangan pernah berhenti percaya akan dirimu sendiri. Jangan pernah menyerah. Kamu berhak menjalani kehidupan ini. Kamu berhak akan semesta ini. Dan kamu layak menjalani kehidupan yang indah dan menakjubkan. Dan berbahagia. Suatu hari, aku harap kamu percaya itu. Karena aku percaya akan kamu. Selalu. (*)

Disadur dari You Deserve To Live by Lauren Jarvis-Gibson

8 Resolusi dalam Hidup, Waktu, dan Uang di 2018

Tidak terasa kita sudah melewatkan beberapa hari di tahun 2018. Apakah kamu sudah menyusun resolusi baru atau memperpanjang ‘masa kontrak’ resolusi yang pernah kamu susun? Bagi saya, tahun ini bukanlah tahun yang ambisius untuk mencapai beberapa target yang (pada akhirnya) sulit untuk dicapai. Tetapi, ada beberapa keinginan dalam diri saya untuk mulai mengubah kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya. Berikut adalah beberapa wish list saya yang siapa tahu bisa memberikan inspirasi.

diego-catto-423897
Photo by Diego Catto on Unsplash

Banyak membaca buku

Tanpa saya sadari, saya mulai berhenti untuk membaca buku secara teratur sejak lulus kuliah. Padahal pada masa lalu, membaca buku adalah hiburan utama saya ketika ada waktu luang. Tetapi saat ini, ketika kita sudah dibombardir dengan beraneka ragam saluran sosial media, ternyata telah berhasil menyedot waktu kita tanpa kita sadari. Pernah tidak mencoba berhitung, berapa jam waktu yang kita habiskan untuk melihat update teman-teman kita di Instagram, menonton YouTube, atau sekadar berselancar di Twitter? Mungkin waktu yang dihabiskan untuk semua itu bisa tergantikan dengan 1-2 bab buku yang seru untuk dibaca. Bagi saya, dengan jadwal jam kantor yang panjang, saya mencoba untuk secara teratur membaca buku sebelum tidur. Rasanya cukup menyenangkan apabila bisa menyisihkan waktu sekitar 30 sampai 60 menit setiap harinya.

Mengontrol keuangan

Sejujurnya, saya bukanlah orang yang melek finansial (dan hey, sekarang pun masih belajar), apalagi sebelum saya bekerja di bank seperti saat ini. Saya sadar, saya termasuk konsumtif apalagi kalau menemukan buku bagus, makanan enak, atau toko online yang lagi menggelar promo/diskon. Tetapi semakin dewasa, saya semakin menyadari bahwa melek finansial adalah tanggung jawab pribadi. Ya, mungkin saja orang tua kita tidak mengajari tentang pengelolaan uang sebanyak yang seharusnya kita ketahui, tapi itu tidak berarti kita tidak dapat meluangkan waktu untuk belajar sekarang. Ada puluhan blog keuangan pribadi online yang memberikan saran keuangan yang keren secara gratis. Selain itu, banyak juga aplikasi di smartphone yang bisa kita unduh untuk mulai belajar mengelola uang. Bagi saya, selain menggunakan aplikasi Jenius untuk menabung dan mengontrol transaksi keuangan, saya punya aplikasi andalan lain bernama MoneyLover.

Mengelola waktu yang ada

Hanya ada 24 jam dalam sehari, tetapi dengan kemampuan manajemen waktu yang cerdas, seharusnya waktu yang ada sudah lebih dari cukup. Kuncinya: tetapkan rutinitas. Saya pernah berbincang dengan teman saya yang berprofesi sebagai penulis dan dia memiliki rutinitas yang sangat membantunya untuk mengatur waktu. Setiap hari, dia akan bangun dini hari untuk beribadah dan kemudian dilanjutkan dengan menulis sampai jam 6 pagi. Dalam keheningan pagi, dia bisa menulis sebuah artikel baru atau tambahan halaman untuk proyek bukunya. Selain itu, dia juga secara rutin menulis to do list yang harus dilakukan setiap harinya. Untuk hal ini, saya mulai belajar dan memulai menggunakan aplikasi todoist di laptop dan smartphone saya dalam menyusun apa saja yang harus saya lakukan setiap harinya sampai 7 hari ke depan.

Selain itu, saya sangat terkesan dengan salah satu teman baik saya, Inne Nathalia yang pernah menjawab pertanyaan followers-nya di Instagram, “Bagaimana cara ia mengelola waktu diantara seluruh kesibukannya?” Jawabannya cukup singkat dan menohok, “make time”. Kalau kita tidak pernah make time atau meluangkan waktu untuk bertemu sahabat kita, menghadiri acara yang kita ingin datangi, mengerjakan hobi, atau hal lain yang kita inginkan, semua itu tidak akan pernah terjadi apabila kita tidak berusaha untuk meluangkan dan memprioritaskan waktu untuk hal itu.

Mencoba hal lain dan selesaikan

Jangan pernah puas dengan kehidupan yang (menurut kita) nyaman – cobalah banyak hal lain. Apa pun hobi, minat, atau keterampilan yang kita miliki, cobalah kejar apa yang kita cita-citakan dengan penuh semangat serta melihat ke mana tujuan akhirnya. Ini berlaku untuk kehidupan pribadi atau profesional kita. Saya sadar, saya pribadi cenderung meniru orang lain yang tampaknya telah ‘berhasil’ dengan kehidupan mereka. Tapi apa yang berhasil bagi mereka mungkin tidak sesuai untuk saya. Jadi, saya selalu mengingat dalam diri, janganlah mengejar impian orang lain.

Tahun ini, saya memutuskan untuk mengerjakan sesuatu yang saya sukai – menulis. Saya masih terus belajar: belajar mana yang berhasil dan mana yang tidak, sekaligus menerbitkan renungan saya secara online. Tentunya pembaca tulisan saya bisa bertambah atau tiba-tiba menghilang dalam semalam. Tapi apakah blog saya gagal atau tumbuh adalah tidak penting. Saya suka menulis dan akan konyol bagi saya apabila tidak mencoba menjalankan hobi saya.

Kebahagiaan datangnya dari bersyukur

Saya mulai belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil yang saya jalani mulai tahun 2018 ini. Saya banyak belajar mengenai #GratitudeList di InstaStory yang dilakukan oleh teman-teman baik saya seperti Chika, Rahne, dan Inne. Satu hal yang saya kagumi dari mereka adalah positivity yang selalu mereka tularkan untuk keselilingnya. Apakah mereka pernah sedih? Saya rasa sebagai manusia biasa tentu pernah, tetapi mensyukuri apa yang kita jalani setiap harinya, tentu akan membantu untuk meringankan langkah ke depannya. Bagi saya, refleksi diri adalah kunci kebahagiaan. Luangkan waktu beberapa menit setiap hari sebelum tidur untuk menuliskan apa yang kita syukuri di selembar kertas (atau kalau saya, menulis di aplikasi Android bernama Zest). Dan setiap kali kita merasa galau, lihat kembali daftar itu dan temukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang pernah kita lalui setiap harinya.

Dorong batas diri sendiri

Melunasi cicilan daripada yang kita pikir bisa kita lakukan, menabung lebih banyak dari yang kita perlukan, lupakan membeli barang yang masih sesuai dengan budget kita. Intinya, ini bukan untuk menyiksa diri kita sendiri, tetapi untuk mengingatkan diri kita bahwa penting untuk berlatih merasa ‘tidak nyaman’. Dorong batas diri sendiri dan hasilnya akan mengejutkan kita.

Hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah perhatian

Di era digital sekarang ini, fokus kita serba sekilas dan singkat. Kapan pun kita menghabiskan waktu dengan teman, pacar, atau anggota keluarga, coba hiraukan smartphone kita. Sebuah percakapan mendalam akan selalu membuat kedua belah pihak merasa lebih bahagia. Karena bagaimanapun juga, hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada seseorang adalah waktu dimana kita mendengarkan serta memberikan perhatian.

Belajarlah dari orang-orang yang berbeda dari kita

Salah satu metode sederhana untuk belajar dari orang lain adalah dengan berinteraksi dengan orang-orang yang tidak mirip seperti kita di media sosial – dalam karir, kegiatan sosial, domisili, serta banyak hal lain. Kamu akan terkejut seperti apa yang bisa dipelajari setiap hari  dari mereka dengan hanya menggulirkan pertanyaan atau percakapan di Twitter atau di InstaStory kamu. Luangkan waktu misalkan di weekend untuk berinteraksi dengan mereka.

Ini adalah beberapa resolusi yang saya ingin jalani di tahun ini. Saya ingin memaksimalkan tahun 2018 untuk melihat ke depan, tidak mundur, dan satu hal yang sangat penting bagi diri saya sendiri adalah menulis lebih banyak. Lalu apa resolusi kamu di tahun baru ini? (*)

Berkarir Itu Pilihan, Bukan Sekadar Kesempatan

Sesungguhnya tak pernah terbesit di kepala saya, beberapa tahun kemudian saya bisa menikmati makan siang dengan penuh tawa dengannya – mantan klien saya ketika saya baru saja berkarir di ibukota Jakarta. Sosok perempuan tegas yang diam-diam saya kagumi: cerdas, cantik, dengan karir bagus di perusahaan multinational.

Padahal, dulu saya pernah hampir dibuat menangis karena dia. Ketika suatu hari dokumen yang saya susun, dibalas olehnya melalui email (oh, tentu saja dikirim juga ke email semua bos saya) dengan penuh coretan serta catatan berhuruf besar warna merah. Intinya: betapa buruknya hasil pekerjaan saya.

Tentu saya tak pernah lupa, karena hal itu merupakan pembelajaran bagi saya untuk berusaha lebih baik lagi. Well, tentu saja saat ini kami sudah bisa menertawakannya. Tetapi disela kami menyesap kopi, saya bertanya, kenapa dia berhenti meneruskan karirnya – yang saya percaya dia bisa mencapai posisi puncak di perusahaan mana saja yang dia mau.

“Saat itu aku merasa menjadi sosok yang berbeda, Dimas. Aku menjadi lebih pemarah dan ambisius. Setelah aku menyadari itu, I just should stop…”.

Sekarang, saya masih sama melihatnya: sosok perempuan yang cerdas, cantik, dan… rendah hati. Ia pun banyak meluangkan waktunya untuk terjun di kegiatan sosial. Diam-diam, saya semakin kagum dengannya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga bertemu dengan rekan kerja di perusahaan lama. Walau kami jarang bekerja sama, tetapi saya tahu, betapa rekan-rekan kerja saya di masa itu cukup menghindar untuk bisa berhubungan dengannya di berbagai proyek.

Kami duduk berhadapan. Saya pun bertanya kepadanya mengapa ia berpindah karir yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dia kerjaan. Senyatanya, saya selalu mengagumi kerja keras dan profesionalitas dia pada masa itu.

“Kalau aku bekerja di bidang yang sama Dim, aku tahu akan menjadi super demanding, too detail – lebih ke mencampuri pekerjaan mereka, dan membuat orang-orang yang bekerja sama denganku menjadi tidak nyaman. Aku ingin mengerjakan hal lain yang membuat aku terus belajar dan mau mendengarkan orang lain. Lebih menyenangkan sekarang, lho”.

Saya terdiam. Sungguh, saya tak pernah menyangka kata-kata itu akan keluar dari teman saya ini. Saya pun menyadari. Bekerja terkadang membentuk diri kita menjadi orang yang berbeda, sadar atau tidak sadar. Bisa menjadi baik atau bahkan… menjadi sosok yang menakutkan tanpa pernah kita sadari. Dulu saya selalu percaya dengan kata-kata:

“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.”

Tetapi memilih pekerjaan yang kita sukai juga memerlukan proses. Mungkin perlu setahun, dua tahun, bahkan belasan tahun. We never know.

Photo by Sergey Zolkin on Unsplash

Mataku seperti terbuka lebar. Mungkin kita punya rekan kerja (hey, atau diri kita sendiri) yang menjadi dementor bagi sekitar. Mengeluhkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan diri kita atau tidak bahagia dengan apa yang dijalani, sehingga memberi pengaruh buruk bagi sekeliling. Padahal, sebenarnya mungkin begitu banyak pintu keluar untuk kita menjadi lebih bahagia – diluar hanya menjadi robot pekerja yang menyelesaikan tugas untuk membayar tagihan setiap bulannya. Ini beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman beberapa teman saya:

Takut menyesal daripada gagal

Gagal berarti kita sudah mencoba dan belajar sesuatu. Menyesal, di sisi lain, datang sebagai respon terhadap apa yang tidak pernah terjadi. Tentu saja kegagalan itu menakutkan, tetapi penyesalan bahkan jauh lebih menyebalkan. Tidakkah lebih baik apabila kita pernah mencoba dan gagal daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali?

Ketika saya bertemu dengan salah satu teman saya – dulunya dia adalah konsultan manajemen di perusahaan global ternama. Saya sungguh kaget dengan tampilannya yang sekarang lebih santai, ceria, dan penuh semangat. Dia pun bercerita pekerjaannya yang sekarang waktunya lebih fleksibel, bertemu dengan banyak orang, dan lebih kreatif. Saya penasaran dan bertanya mengapa dia meninggalkan posisi dimana mungkin ribuan orang berlomba-lomba untuk menggantikan posisi dia.

“I still young. Aku masuk perusahaan itu untuk belajar dan mengambil ilmu sebanyak mungkin. Setelah aku merasa cukup, aku keluar untuk mendapatkan pekerjaan yang aku sukai. Kalau aku gagal, at least aku sudah mencoba di hidupku”.

Lebih baik melakukan apa yang kita sukai

“Jika saya bisa kompeten dalam hal yang saya minati, apa yang akan terjadi jika saya melakukan sesuatu yang benar-benar saya cintai?”

Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Saya percaya karya yang luar biasa hanya bisa datang dari tempat dimana kita mencintai untuk melakukannya. Ini adalah saatnya untuk memanfaatkan keahlian, bakat, dan sesuatu yang secara alami kita sukai. Saya sangat kagum (dan iri!) dengan sahabat saya, Hanny, yang sungguh melakukan ini dalam hidupnya. Silakan mampir di sini untuk membaca tulisan dan cerita hidup di blognya yang sangat bagus.

Setiap orang merasakan hal yang sama

Menyadari bahwa kita tidak sendirian dengan pikiran dan ketakutan mengenai hal ini membuat terasa lebih nyaman. Kita tidak lemah atau rapuh karena takut – toh kita hanyalah manusia biasa. Pahami bahwa apa yang kita rasakan sangat normal, tapi apakah bertindak atau tidak adalah pilihan kita sendiri.

Tentukan alasan

Alasan mantan klien saya di atas untuk meninggalkan pekerjaannya adalah untuk bekerja dengan tujuan baru, yaitu untuk membantu sesama. Ia meninggalkan pekerjaan di mana dia dapat mengekspresikan diri sepenuhnya dan memberi dampak positif. Pelajarannya: jika kita paham dengan baik mengapa kita meninggalkan pekerjaan sebelumnya, kita juga akan memahami risikonya. Ini akan membantu kita untuk tetap termotivasi dan membuat tetap fokus ke arah yang benar.

Life is a matter of choice not a matter of chance

Hidup ini selalu tentang pilihan. Ini yang dikatakan salah satu sahabat saya sejak jaman kuliah dulu. Kita tidak akan pernah tahu hidup kita akan menjadi lebih baik apabila kita tidak pernah mencobanya. Terkadang, kita harus berani mengambil langkah baru dan lakukan!

Tidakkah hidup lebih bermakna ketika dijalani dengan pilihan daripada menunggu kesempatan? Tidakkah kita lebih puas melihat ke belakang dan tahu bahwa kita telah melakukan semua yang kita bisa untuk menjalani hidup yang diinginkan daripada sekedar berharap?

Siapa tahu, dengan keberanian – dan tentunya dengan seijin Tuhan, mungkin kita mendapatkan semua yang kita harapkan. We never know until we try. (*)

Dan Lalu, Hujan Pun Turun

Jalan setapak itu masih sama dengan pemandangan yang tak pernah berubah: gedung-gedung berwarna semu, belasan taksi yang bergegas, dan wangi aneka jajanan di sepanjang trotoar. Di satu sudut coffee shop, aku duduk sendiri, di antara novel, segelas coffee latte yang sudah mulai dingin, dan pandangan mataku ke arah jalanan dari balik kaca yang mulai berembun.

Kukeluarkan secarik kertas dari dalam tas kulit berwarna cokelat usang, sesekali kuhela nafas dengan jeda sekian detik, dan mulai menulis untuk seorang sahabat…

Di sini, hujan tak pernah turun lagi. Titik-titik air dan pekik girang anak-anak kecil yang bermain air rintik hujan, sudah tak pernah lagi aku dengar. Iya, aku merasa kehilangan. Seperti rerumputan yang mulai tampak mengering di halaman luar jendela kamar. Kering. Membosankan.

Tapi entah kenapa aku selalu yakin, hujan pasti akan turun lagi: di pagi hari ketika harum roti bakar menyebar di dapurku, siang hari disaat pekerjaan masih menyita waktu, atau sore hari disaat kumerindukan semua tentang dia. Seseorang yang aku ceritakan. Satu sosok yang sama dan selalu bisa berubah wujud menjadi seperti yang aku mau. Entah menjadi bintang di langit, angin lembut di balik telinga, atau bahkan menjadi temaram lampu-lampu jalan di malam hari. Ia bisa menjadi apa saja. Aku bahagia, tersenyum, lalu patah hati untuk kesekian kalinya, karena ia tak pernah nyata ada.

Kadang, aku hanya ingin hidup di antara saat-saat aku akan terlelap. Ketika mata enggan terbuka, tetapi raga masih terjaga. Disaat aku bisa mendengar suara jangkrik sampai lolongan anjing – yang terkadang membuatku bergidik, tetapi membuat aku tersadar – aku masih hidup dan masih memikirkannya.

Iya. Hujan tak pernah turun lagi… Tetapi aku selalu membawa payung untuk berjaga-jaga. Toh kita tak akan pernah tahu kapan hujan akan turun. Bisa sekarang, lusa, ataupun minggu depan. Bukannya itu sama seperti cinta? Kita tak pernah bisa tahu kapan ia akan datang. Semua serba tiba-tiba, tanpa pesan. Walau aku tahu, andai kamu di sini, ketika rintik hujan mulai turun, kamu akan berpura-pura meniup awan-awan hitam di atas kepalaku, lalu kita tertawa dan berlari bergandengan tangan sambil menjejakkan kaki di atas kubangan air, lalu aku akan basah dan kamu tertawa lepas.

Tapi disini tiada dia, kamu, dan hujan. Aku hanya memiliki payung yang menemani. Benda yang menjagaku dari derasnya air yang terkadang ingin rasanya kuacuhkan membasuh basah wajahku, agar tak ada yang tahu – aku pun meneteskan air mata karena rindu. Tetapi aku enggan membasah, menggigil, tanpa ada dia yang bisa menghangatkanku. Walau ku mampu menggantinya menjadi secangkir cokelat panas di genggaman. Toh dia ada dimana saja, kapan saja, tanpa kenal waktu – di pikiran dan ujung pelupuk mataku. Apakah ini yang namanya cinta?

reza-shayestehpour-14238
Photo by reza shayestehpour on Unsplash
Iya, aku masih menyimpan satu foto yang aku simpan diam-diam di antara notes yang selalu kubawa. Fotonya yang tersenyum, entah karena apa. Tetapi aku tahu, dia bahagia dan aku selalu bahagia untuknya. I always know, someday I’ll look back on that picture and get butterflies because I miss it. Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?

Ah, sebaiknya aku bergegas pulang. Entah kenapa tiba-tiba cuaca diluar bermetamorfosa menjadi lebih kelam. Aku khawatir kali ini akan benar-benar akan luruh. Bukan, bukan hatiku yang luruh. Tetapi hujan yang turun tiba-tiba, seperti cinta… dan juga rindu.

See you soon!

Kuberlari kecil dan bergegas membuka pintu ke arah luar coffee shop. Alunan musik pun sayup-sayup kudengar, “should I give up or should I just keep chasing pavements?”. Dan lalu, hujan pun turun…. (*)

Lelaki Pecinta Hujan

Aku jatuh cinta pada hujan. Di saat sejuknya September dengan hiasan bulan yang menggantung bulat penuh bersinar. Cahayanya tajam luruh ke bumi dan berpendar hangat menimpa wajah gelisahku. Indah. Tapi sayang, aku hanya bisa menikmati bulan itu seorang diri. Ditemani senyum yang perih dan hembusan angin kencang dari selatan. Secangkir kopi pekat itu pun telah habis. Sekadar tersisa goresan tipis bubuk kopi basah di ujung cangkir, bekas sentuhan bibir yang gagu menahan tangis. Aku terduduk di sudut. Kurengkuh kedua kakiku dengan tangan, memeluknya seakan melepas rindu yang mendalam. Dalam pedih kukirimkan salam kepada sang bulan,

Bulan, jadikan aku satu diantara bintangmu, tak apa aku bersinar paling redup, setidaknya aku tak akan pernah sendiri lagi menanti cahayamu. Tolong aku, bulan!”

Setiap malam aku dendangkan sebaris kalimat itu dengan memandang bulan lekat-lekat. Bulat. Terkadang kunyanyikan dalam hati, kadang kutasbihkan beriringan dengan pendarnya bintang yang berkelip santun. Tapi, bulan tak pernah menjawab. Ia tetap berbinar dan mengalun pelan menanti pagi. Diantara doa-doa malam yang beterbangan dan embun pagi yang segera menetas.

Waktu terus mengalir. Di malam akhir bulan September, aku masih sendiri. Aku berputar menari-nari dibawah sinar bulan yang terang. Terus berputar dan berputar, seakan waktu menjadi hampa dan diam. Dingin pun kuhiraukan. Aku terus menari bersama kunang-kunang yang tersenyum riang. Hingga tiba-tiba tetes demi tetes air itu bermunculan tanpa duga. Aku terus berputar, lebih kencang lagi dan menari diiringi derasnya turun hujan yang melagu. Sapaan lentik airnya begitu bersahabat dan hangat. Alam berbahagia, hewan air berdansa, dan aku tertawa gembira.

Eureka! Aku menemukan kekasih jiwaku, hanya engkau hujan yang bisa membuatku tersenyum! Hanya engkau hujan!”

Hari berganti hari, malam demi malam aku pun terus menikmati hadirnya hujan. Kupuja setiap bulir air yang mengalir deras di setiap bait tubuh. Hingga hari-hari mendekap bulan, aku mendewakan tiap tetes hujan bagaikan kata-kata sejuta kekasih yang tak pernah bosan merasuk dalam. Ah, aku jatuh cinta padamu hujan. Sungguh. Aku takkan pernah bisa berpisah darimu. Tak akan. Selamanya. Cukup selamanya.

steve-halama-361313

Saat ini datang, tepat setahun sejak akhir September yang sejuk itu. Entah kenapa, hujan itu enggan untuk hadir kembali. Tanpa sepotong pesan. Hanya angkasa kosong tanpa kesan. Aku terpengkur seorang diri. Seperti jiwa kehilangan kasih. Kutatap bulan yang setengah bersinar. Lekat. Dua tetes air mengalir dari kedua mataku.

Dimana engkau hujan? Bosankah engkau denganku? Aku rapuh tanpa hadirmu.”

Malam tetap pekat. Geram dengan keadaan. Tampak malas bergayut diantara awan. Bintang-bintangpun seakan meratap sedih beraduk iba ke arahku. Mereka saling berceloteh dan kemudian memohon,

“Wahai bulan, katakanlah sebenarnya kepada dia, katakanlah!”

Bulan tak tahan lagi. Sinarnya meredup layu. Angin terhenti sesaat. Awan-awan pun menghindar. Tak ingin menganggu khusyukan kesedihan bulan.

Terpaksa aku harus bicara kepadamu, sayang. Berhentilah berharap kepada hujan. Kalian berbeda. Dia tak akan pernah mencintaimu. Jangan sia-siakan hidupmu demi angkuhnya hujan.”

Aku tercekat. Lidah ini tiba-tiba kaku dan dingin. Aku berteriak!

Kejamnya engkau hujan! Kenapa tak kau sampaikan sejak dulu jika kau tak akan pernah mencintaiku! Teganya engkau!”

Aku dikhianati. Bergegas kuberlari menyusuri bukit pasir putih itu. Tanpa arah kuterus berlari. Semakin kencang kulangkahkan kaki dan aku terjerembab jatuh tersungkur di ujung bukit. Betapa perihnya sekujur tubuh. Tapi aku lebih terkesan dengan perihnya hati ini. Dalam hening, tanpa sadar kuraih cepat sepotong bambu kecil tajam dengan tangan kiri. Kuangkat tinggi-tinggi diantara jemari. Kutantang langit. Kuteriakkan amarah.

“Lihat ini hujan! Aku tak peduli dengan hadirmu! Aku benci engkau hujan!”

Kuhujamkan bambu itu ke kedua mataku. Maha sakit, tapi aku membatu diam. Lalu dengan keras kuhunuskan bambu itu menuju hati. Darah pun mengalir. Deras. Dalam hembusan lirih kuberbisik,

Lebih baik aku buta mata, agar aku tak pernah lagi melihat engkau memberikan bulir airmu untuk sosok yang lebih engkau cintai. Aku pun butakan hatiku, agar tak perlu lagi kurasakan cinta hadir. Selamat tinggal hujan… Aku tak bisa menghentikan cintaku untukmu. Selamanya.”

Hujan pun lalu turun setetes demi setetes. Warna airnya pucat, tak lagi bening, tapi bewarna kemerahan, selegam darah yang telah terlanjur tertumpah demi kata-kata cinta. (*)

27 September 2006.