Kita Tidak Selalu Bertemu Dengan Orang Yang Tepat (Dan Itu Tak Apa)

Seorang teman sedang gundah hatinya. Pasangan sempurna yang ia nanti selama ini rasanya tak kunjung tiba. Sesungguhnya ia bertemu dengan beberapa individu yang menarik hati, tapi… It just does not feel right. Lalu ia bertanya kepada Ibunya mengapa ia memilih Ayah untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya. Ibu menjawab dengan bijak,

Jangan pernah mencari pasangan yang sempurna, tapi carilah sosok yang kamu bisa terima kesalahan-kesalahannya. Kita pasti bertemu dengan banyak orang yang bisa menjadi pilihan, tetapi semua pasti memiliki kekurangan atau kesalahan yang pernah/akan dilakukannya. Sekarang kamu hanya perlu berpikir dalam, pilih sosok yang paling bisa kamu terima untuk menerima kesalahan-kesalahannya dan bersedia memahaminya selama di sisa hidup kamu. Apakah kamu sanggup?

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan rasanya kita semua paham mengenal hal ini. Tetapi ketika kita memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan satu sosok dalam hidup kita dan memberikan ruang yang cukup luas di hati untuk ia bisa menghiasi dengan beribu cerita, rasanya tidak pernah akan semudah itu.

Photo by Irfan Nur Ilman

Bagaimana kalau tiba-tiba di tengah perjalanan kita menemukan kekurangan yang membuat kita tak nyaman? Bagaimana kalau ternyata kita menemukan yang lebih baik daripadanya? Dan barisan pertanyaan bagaimana lainnya yang terus bermunculan.

Tapi pernahkah kita merenung, bagaimana kalau kesalahan yang dimiliki pasangan kita tak lebih baik dari kekurangan kita? Bagaimana kalau kesalahannya karena apa yang telah kita perbuat? Atau bagaimana kalau ia menerima kekurangan kita sebagai tanda cinta yang tak kasat mata? Kasih sayang sendiri tidaklah sempurna. Ia tidak berjalan sendiri, tetapi seperti gengaman tangan yang perlu jari-jemari untuk membuatnya penuh.

Kita tidak bisa selalu bertemu dengan sosok yang sempurna seperti yang kita inginkan. Tetapi kita bisa mencari pasangan yang membuat kita terasa lengkap. Bukanlah menjadikan kesalahan terasa ganjil, tetapi menciptakan dua perasaan menjadi terasa genap.

Jadi, tidak selamanya kita bisa bertemu dengan orang yang tepat dan sungguh, itu tak apa. Sudahkah kamu menemukan sosok yang bisa kamu terima kesalahan-kesalahannya? (*)

Memilih Untuk Bahagia

Pernahkah kamu berambisi untuk mendapatkan sesuatu atau mengejar satu tujuan, lalu ketika kamu telah mencapainya ternyata kamu tersadar hal itu bukanlah tujuan akhir yang kamu cari? Saya pernah dan tidak hanya sekali. Terkadang apa yang kita harapkan dan bahkan sudah kita persiapkan dari jauh hari, ternyata tidak berbanding lurus dengan harapan dan tujuan hidup yang tiba-tiba berubah karena dalam perjalan hidup akan selalu menemui kejutan baru. Perpisahan, pertemuan, kebahagiaan, kesedihan, kematian, dan seluruh kejutan-kejutan kecil atau pun besar dalam hidup.

Photo by Melfin Salim

Seorang sahabat baru saja mengatakan kepada saya,

Ingat gak Dim dulu kita berjuang keras dan ambisius melakukan banyak hal? Sekarang aku merasa sampai titik dimana aku tak lagi berambisi mendapatkan gaji lebih tinggi, posisi karir lebih di atas, atau hal-hal lain yang seakan-akan aku harus menunjukkan kepada semua orang kalau aku… berhasil. Berhasil untuk siapa? Sekarang yang paling penting aku harus merasa nyaman dengan apa yang aku kerjakan, apa yang aku pikirkan, dan menjadi bahagia sebagai diri aku sendiri.

Saya mengangguk-angguk setuju sambil menyesap secangkir kopi latte. Saya sendiri berpikir, hidup bukanlah hanya sekedar mengejar ambisi atau passion. Tidak semua orang memiliki endurance yang sama untuk bisa gagal berkali-kali sampai berhasil. Memilih satu hal yang bisa membuat kita bangun tidur dengan bahagia setiap hari, tidak merasa tertekan ketika mengingat besok sudah kembali hari Senin, atau percaya bahwa kita melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain, rasanya sudah lebih dari cukup. Karena bagi saya tidak semua orang terlahir di dunia ini untuk menjadi pemeran utama dalam hidup. Tepuk tangan pasti akan terhenti, lampu sorot akan kembali meredup, dan tirai akan menutup.

Walau ratusan pertanyaan masih tetap beterbangan di atas kepala. Apakah tidak apa menjadi bukan siapa-siapa? Apakah salah menjadi serba biasa? Dan apakah artinya saya mengalah dan kalah? Tetapi teman saya pernah berkata,

Pilihlah bahagia karena menjadi bahagia adalah satu hal yang bisa kita pilih.

Lalu saya pun memilih untuk bahagia. Walau perjalanan hidup akan selalu ada kejutan. Bukankah itu esensi menjalani hidup? Jadi, sudahkah kamu memilih bahagia? (*)

Perjalanan Kita Bukan Untuk Menemukan Cinta, Tapi Lebih Dari Itu

Terkadang hidup kita bisa menjadi begitu sepi dan berharap bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuat hati terasa lebih hangat. Seseorang yang bisa memberikan pelukan yang menjadi semangat menjalani hari. Dan seseorang yang bisa membuat kita jatuh cinta berkali-kali. Tetapi adakala cinta sendiri adalah kosa kata yang asing. Terlalu sering mendengarnya tetapi kita tak pernah mengerti.

Photo by Ivan Loviano

Mungkin perjalanan yang kita jalani bukanlah untuk menemukan cinta, tetapi tentang hal lain. Satu, atau dua hal yang lebih besar dari itu. Satu, atau dua hal yang akan mengubah dunia kita.

Perjalanan untuk menemukan keinginan besar yang ingin dikejar, perjalanan untuk menjalani kehidupan yang sudah diimpikan selama ini, perjalanan untuk menemukan tempat memulai hidup yang baru, atau perjalanan untuk bertemu orang-orang seru yang memberikan inspirasi agar menjadi diri sendiri yang lebih baik.

Mungkin perjalanan kita bukanlah untuk menemukan cinta, tetapi untuk memahami diri sendiri. Menciptakan sosok yang berbeda dan meninggalkan semua masa lalu yang telah menjadi beban di pundak. Seperti melepaskan balon-balon kenangan satu demi satu ke angkasa.

Suatu saat, kita akan melihat kebelakang dan menyadari, banyak hal baik yang menunggu di depan dan membuat kita bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kesempatan yang telah kita lewatkan demi mengejar satu hal yang mungkin memang bukan perjalanan untuk kita. Bukanlah cinta, tapi lebih dari itu. Satu, atau dua hal yang menjadi prioritas tapi kita tak pernah tetap hati untuk memilihnya. (*)