Perasaan Itu Adalah Teman

Terkadang, hal terakhir yang ingin kita lakukan adalah mencoba menyelami perasaan kita sendiri. Bukankah mendalami apa yang kita rasakan di hati adakalanya terasa begitu menyakitkan?

Bahkan, sekadar untuk merasakan apa yang terjadi saja, bukan satu hal yang penting untuk diberikan dari 24 jam waktu kita.

Jika selama ini kamu merasa menyimpan perasaanmu seperti ada berkantong-kantong karung pasir di pundak, ya, saya tahu rasanya. Saya banyak belajar untuk menahan kepekaan dan emosi yang ada dengan tujuan bermaksud baik, untuk melindungi orang-orang di sekeliling saya.

Well, saya rasa, saya pasti tak sendiri, banyak juga yang melakukan hal yang sama. Semua itu mungkin saja terjadi karena kita merasa bahwa emosi yang nyata bukanlah hal utuh dan aman untuk ditunjukkan. Kita belajar bahwa menangis itu lemah. Kita belajar bahwa hidup akan berjalan ‘lebih lancar’ kalau kita bisa menelannya bulat-bulat dan melupakannya seperti angin. Sampai tanpa sadar, kita sampai pada titik untuk ‘meledak’.

Dan saya baru saja mengalaminya beberapa waktu yang lalu. Saya merasa semua akan baik-baik saja selama saya menanamkan ke dalam diri sendiri bahwa semua ‘pasti’ akan baik-baik saja. Afirmasi diri yang menjadi racun yang pelan-pelan menjalar dari ujung kepala sampai ke seluru penjuru badan.

Hingga tiba di satu titik. Di saat pandemi yang kita alami ini membuat banyak hal menjadi lebih sulit – mulai dari pekerjaan sampai hubungan personal. Dunia rasanya penuh dengan sekat dan kita hanya menjadi seperti hamster yang berlari di running wheel. Lalu kita juga harus menghadapi orang tercinta pergi untuk selamanya satu per satu. Otak saya tidak bisa memahami dengan baik. Hati saya bahkan lebih sulit untuk mengerti.

Perasaan ini belum pernah saya rasakan selama hidup saya, hingga pada satu titik: I’m not OK and it’s OK to be vulnerable.

Saya mulai membuka diri. Bercerita apa yang saya rasakan dan itu tak apa-apa. Menelpon teman baik hanya untuk mendengarku menangis selama sejam lebih dan itu tak apa-apa. Menceritakan kita tidak baik-baik saja dan itu juga tak apa-apa. Dari sana saya mengalami seperti ada gelombang kasih sayang dan dukungan yang begitu besar.

Kontrol emosi saya yang lemah namun hati-hati, terurai sepenuhnya. Ketika saya mulai bersandar pada aliran perasaan yang melegakan, alih-alih berlari ke arah yang berlawanan, hidup mulai mengirimi saya pengalaman yang saya butuhkan untuk belajar bagaimana menjelajahi gelombang serangan emosional.

Saya belajar bagaimana menyambut perasaan saya sebagai teman, daripada sebagai binatang buas yang ingin menghancurkan hidup saya—atau setidaknya hari-hari singkat saya.

Saya belajar di mana emosi akan bersembunyi di tubuh saya. Saya juga belajar betapa pentingnya merasakan emosi saya sehingga dapat terhubung dengan kata hati saya – yang terkadang lebih bijak. Menjebloskan diri untuk memproses perasaan saya, daripada membiarkannya menumpuk sampai menguras dan mengubah hidup saya.

Ketika saya mencoba untuk menjelaskan dengan tepat bagaimana saya terus belajar memahami perasaan saya, inilah yang muncul:

Setiap perasaan memiliki pesan

Mungkin pesan itu hanya untuk membiarkan diri kita merasakan emosi. Mungkin juga perasaan itu membimbing kita untuk menuju ke satu respons kita ke depannya.

Suatu kali, ketika saya terlalu khawatir dengan suasana baru dan ekspektasi yang ada di sekitar saya, ketakukan dan kecemasan mulai menjalar ke seluruh tubuh saya seperti pinball yang sugar rush tanpa alasan yang jelas. Dengan kata lain, saya seperti terjun bebas, tapi yang tidak masuk akal adalah: bahwa semua ini terjadi atas pilihan saya sendiri.

Ketika saya mulai menjelajahi perasaan ini semakin dalam, saya menyadari bahwa ada masalah yang lebih penting yang perlu saya pahami sebelum mengambil langkah selanjutnya.

Jika sesuatu tetap ada—kemarahan, ketakutan, kecemasan—cukup tanyakan apa yang ingin disampaikannya kepada diri kita. Duduk dengan tenang dan biarkan jawabannya muncul. Ketika kita sudah merasa damai, kita akan menemukan jawabannya. Hanya, apakah kita menyukai apa yang dikatakan oleh jawaban itu atau tidak. Saya juga masih belajar untuk memahami hal ini.

Memproses perasaan untuk memberi kita akses ke dalam batin kita sendiri

Di saat saya sendiri, saya mencoba mencerna perasaan saya dan terus memburu apa rasa yang ada yang mungkin selama ini pura-pura saya hindari. Terkadang saya harus meninggalkan pekerjaan sejenak hanya untuk berpikir lebih dalam.

Sejatinya, kita sudah memiliki semua jawaban yang kita perlukan di dalam diri—dan emosi adalah kendaraan utama untuk jawaban itu. Mempelajari bahasa perasaan akan memberi kita bantuan  pribadi yang terkadang kita hiraukan.

Semua perasaan yang kita bawa ini bisa jadi bukan milik kita

Terkadang kita tidak hanya membawa emosi diri sendiri tapi juga emosi orang-orang yang terhubung dengan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Seperti teman yang curhat, cerita yang kita baca di social media, berita duka yang kita terima, dan masih banyak hal lain. Emosi kita sendiri mungkin dipenuhi oleh emosi orang lain yang kita serap secara tidak sadar.

Beberapa hal di atas menjadi pelajaran penting yang cenderung saya sering melupakannya. Biasanya, saya akan bersembunyi dari perasaan saya dengan membuat diri ini sesibuk mungkin dan kemudian saya bertanya-tanya mengapa saya merasa begitu menghakimi dan tersesat.

Kita adalah manusia dan memiliki semua hak untuk mengungkapkan perasaan kita setidaknya kepada diri kita sendiri. Tertawa saat ingin, menangis saat ingin, dan meratapi saat jatuh seperti yang dilakukan…. Sederhanakan hidup.

Saya akhirnya menemukan keberanian untuk bangun dan merasakan perasaan saya. Membiarkan diri merasakan dan mengekspresikannya, daripada menekannya dan nantinya meledak. Hidup menjadi lebih ringan, setidaknya sampai hari ini. (*)

Jangan Biarkan Masa Lalu Mengusik Bahagiamu

Ada masanya saya merasa menyesal karena melewati atau kehilangan beberapa hal ketika saya masih muda.

Karena saya pernah gagal di satu hal, saya berusaha untuk menjadi yang terbaik di hal-hal lain yang belum tentu saya sukai.

Karena saya berasa mampu, saya terlalu serakah untuk mempelajari banyak hal bersamaan, akhirnya tidak ada yang maksimal.

Karena saya takut untuk menjalani hal-hal yang tidak pasti, saya memilih jalur yang tampak lebih mudah dan aman. Termasuk peluang di dalam berkarir, semakin dewasa, saya merasa harus semakin realistis (atau semakin khawatir?) untuk tidak memilih jalan yang salah – tentunya menurut diri saya sendiri.

Sekarang, di usia yang tidak muda lagi, sangat menggoda untuk melihat lagi ke belakang dan merasa tak nyaman karena telah menyia-nyiakan banyak waktu ketika saya begitu penuh potensi. Tapi, kemudian saya berpikir: saat ini pun masih.

Suatu malam (tentu sebelum pandemi), saya menghadiri sebuah konser musik yang dihadiri oleh ratusan penonton di dalam gedung. Awalnya saya berencana untuk pulang lebih awal karena saya agak lelah karena pulang kerja, tetapi akhirnya saya memilih menikmati konser sampai lagu terakhir.

Saya ingat ketika melihat sekitar saya, terlihat samar-samar penonton yang usianya mulai dari belasan tahun sampai beberapa pasang orang tua berusia 50-an. Lalu saya menyadari, hey, kami semua sama di gedung ini.

Semua tenggelam dalam musik, sepertinya tidak memikirkan apa-apa, hanya memilih untuk bersama dan bernyanyi. Seolah-olah pada saat itu, kami semua menjadi muda. Satu usia. Apa yang pernah terjadi atau apa yang akan datang tidak menjadi masalah saat itu.

Yang penting adalah bahwa kami semua memiliki pilihan yang sama: duduk di belakang, berdiri mendekati bibir panggung, atau bersantai sambil bernyanyi bersama.

Itu adalah pilihan yang kita hadapi setiap hari.

Kita dapat fokus pada hal-hal menyenangkan yang dapat kita lakukan tetapi tidak pernah kita lakukan, atau kita dapat melakukan sesuatu yang menyenangkan, sekarang.

Kita bisa memikirkan kesalahan yang kita buat di masa lalu, atau kita bisa fokus menikmati momen yang kita jalani, sekarang.

Kita juga bisa menyesali semua peluang yang kita lewatkan, atau kita bisa fokus apa yang sedang kita hadapi, sekarang.

Akan selalu ada sesuatu yang tidak kita lakukan di masa lalu, tetapi sekarang kita punya pilihan, cerita apa yang kita pilih di hari ini, untuk kita ceritakan esok hari. Sekarang ini, berapapun usia kita, inilah kesempatan kita untuk menjalani hidup sepenuhnya. Lakukan dengan versi terbaik dengan cara kita.

Aku sendiri, memilih untuk terus bernyanyi dan terkadang, dengan sedikit berdansa yang mungkin hanya aku yang mengerti. Living to the fullest, they say. (*)

It’s Okay to Not Be Okay

“Kita punya Tuhan, Dim. Karena itu kita harus memilih dengan tegas dan ikhlas menjalani pilihan itu”.

Aku ingat sekali kata-kata ini diucapkan oleh teman baik saya ketika waktu itu harus mengambil keputusan besar di dalam hidup. Kami duduk berhadapan, di negara yang asing, dengan pakaian kerja kami yang mulai kusut, dan air minum tak bersisa di meja. Aku mulai memutar-mutar sedotan, gelisah.

“Bagaimana kalau aku salah ambil keputusan?”

“Hidup itu kayak kepingan puzzle. Terkadang dapat hilang dalam sekejap, tapi, jangan pernah berhenti. Suatu saat, kamu akan menemukan kepingan-kepingan yang sepadan, dan pada akhirnya… gambarannya akan tampak utuh”.

Sejujurnya, aku rindu dengan percakapan-percakapan di antara kesepian. Terasa lebih nyata dan tak perlu berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja. Tetapi, baik-baik saja adalah mantra yang selalu diucapkan dalam hati,

I’m okay, and everything would be fine“.

Terkadang kita malu untuk mengakui, bahkan kepada diri sendiri, bahwa kita bisa dan boleh merasa sedih. Bukan berarti kita gagal, atau bahwa hidup memperdayai kita. Media sosial tentu saja tidak memberikan pandangan yang bijak: semua orang tampak selalu berada di puncak dan bahagia, seperti mata uang baru di masyarakat.

Masalahnya adalah kenyataan hidup tidak benar-benar seperti itu, dan ketika kita mengharapkannya, terkadang hal itu hanya akan membuat kita merasa menjadi lebih buruk.

photo-1472566316349-bce77aa2a778

Melalui peristiwa dalam hidup kita, entah itu baik dan buruk, kita belajar siapa kita dan apa yang membuat kita terus berjalan. Ini bukan tentang berilusi bahwa kita bisa bahagia selamanya — ini tentang bagaimana kita dapat mengambil langkah demi langkah serta menerima bahwa kita akan melalui saat tidak bahagia. Selama tahun ini, saya mencoba melihat kembali apa saja yang telah saya rasakan dan pelajari:

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian dan sungguh, itu tidak masalah

Sudah menjadi sifat alamiah manusia untuk ingin memiliki kendali dan penjelasan untuk hampir semua hal. Hal ini membantu kita untuk tetap tenang dan sedikit lebih waras. Bagaimana pun, sebenarnya hidup adalah rangkaian kejadian yang tak pasti.

Ya, kita memang memiliki kendali atas beberapa hal — seperti tindakan kita. Tapi jika menyangkut masalah tertentu, kita tidak memiliki kendali atas banyak hal, seperti pandemi yang kita jalani saat ini, apa yang dipikirkan oleh orang lain, cuaca, dan masih banyak lagi di muka bumi.

Ini tentang merasa nyaman untuk menjalani ketidakpastian. Sungguh, terkadang ketika saya ikhlas dan tidak mencoba mengetahui segalanya, semakin saya merasa lebih tenang.

Fokus pada perjalanan, bukan tujuan

Selama masa-masa up & down, seperti karena pandemi, pikiran saya selalu beralih ke mode fast forward. Tiba-tiba di kepala saya melompat ke beberapa tahun ke depan, apa yang sekiranya akan terjadi, ya?

Dengan pandemi ini, apakah orang yang saya cintai dan saya sendiri akan baik-baik saja? Apakah saya akan memiliki pekerjaan yang stabil?

Pola pikir ini membantu saya menyadari bahwa yang dapat dilakukan oleh saya adalah untuk berpikir untuk saat ini, masa ini. Terutama ketika dalam masa pandemi, berpikir terlalu jauh ke masa depan dengan penuh ketidakpastian hanya akan menambah pikiran yang tidak perlu dalam hidup saya, karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi.

Ya, kita memang harus melangkah lebih hati-hati. Namun, penting juga untuk disadari bahwa kekhawatiran terus-menerus tidak menyelesaikan apa pun dalam jangka panjang. Rasanya itu hanya membawa kita menjauh dari semua momen berharga yang ada di sekitar kita saat ini.

Ada pelajaran baru setiap hari

Sejak pandemi juga, saya belajar untuk mulai lebih berhati-hati dalam pengeluaran dan menggunakannya dengan lebih bijak. Untuk tidak meremehkan kesehatan saya. Untuk benar-benar menghargai dan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga dan teman. Tahun ini juga mengajari saya bahwa tidak ada yang pasti. Semua dalam sekejap, bisa diambil dan hilang.

Satu-satunya hal yang konstan dalam hidup adalah kebahagiaan batin

Tidak ada yang bisa menghilangkan kebahagiaan di batin kita. Tidak peduli betapa beratnya hidup, penting untuk menemukan kebahagiaan. Jadi meskipun kadang-kadang terasa sangat menantang, itulah yang saya coba lakukan dengan lebih sadar.

Berbicara dengan teman di telepon yang belum pernah saya hubungi cukup lama. Makan makanan yang belum pernah saya coba. Membaca buku yang lama saya tunda untuk menyelesaikannya. Tidak ada yang bisa mengambil kebahagiaan kecuali diri kita sendiri.

It’s okay to not be okay

Tidak apa-apa apabila kita merasa tidak baik-baik saja. We are human after all. Rasakan, ceritakan, tulis, atau lakukan sesuatu supaya beban itu tidak hanya kita pendam sendiri. Saya belajar banyak hal mengenai hal ini. Untuk mulai sedikit demi sedikit bercerita kepada orang yang bisa dipercaya, untuk memahami bahwa manusia tidak ada yang bahagia selamanya, untuk mengerti bahwa kita harus belajar mencintai diri kita sendiri.

Saya pernah bilang ke teman saya ketika bertanya apa yang bisa dibantu, saya menjawab,

“Terkadang, manusia ketika menghadapi masalah tidak harus selalu dibantu, biarkan dia menemukan caranya untuk membantu dirinya sendiri”.

Bukankah hidup itu juga perjuangan? Entahlah, mungkin saja saya salah, tapi setidaknya saya percaya, kita semua bisa memilih jalan mana yang akan kita tuju. Untuk menemukan kebahagiaan batin yang akan kita cari caranya, atau membiarkan kita tenggelam perlahan, lalu menghilang. In the end, life is a matter of choice. (*)

Jika Aku Pergi

Hei, jika aku pergi, tak perlu menangis. Kamu kan tahu aku paling benci air mata. Bukan karena aku mencoba untuk kuat. Tapi aku pasti akan terisak lebih keras, bahkan lebih berduka dibanding kamu.

Aku akan pergi dalam diam. Ini caraku untuk menjagamu. Menghilang dalam senyap, ibarat asap. Memang terasa sesak, tapi lihatlah sisi baiknya. Setelah ini, kamu bisa berlari lebih kencang, berteriak lebih lantang, dan mengejar mimpimu yang masih panjang.

Maaf aku pergi dengan cara seperti ini. Entah ini takdir atau nasib. Tapi pada intinya, keduanya tidak pernah aku mau. Aku hanya pion yang pada masanya akan keluar dari papan catur pertarungan hidup. Selalu ada yang menang dan kalah. Kamu tahu kan aku sejatinya tak pernah ingin menyerah? Tapi aku tak sadar, ternyata jiwaku lelah.

Jadi, ketika bunga-bunga ditaburkan, ketika doa-doa dilayangkan, ketika langkah-langkah meninggalkan, teruslah hidup. Aku akan terus ada. Di setiap senyum yang kamu pasang di cermin, di setiap syair yang pernah aku ceritakan, di setiap helai air yang berguguran, dan di setiap detak jantungmu yang Tuhan hembuskan.

Aku tidak mati, aku hanya pergi. Berkelana seorang diri seperti yang selalu menjadi ‘seandainya aku bernyali’ dalam hidupku. Sampai nanti, ya. Janji kita akan bertemu lagi. Di masa ini atau nanti. (*)

Menyayangi Tanpa Ekspektasi

Sayangilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Tidak berarti harus menjadi egois untuk menempatkan diri kita di atas segala-galanya, tapi usahakanlah untuk menjadikan diri sendiri yang utama. Terkadang kita lupa, kita abai meluangkan waktu untuk kebaikan kita sendiri. Terkadang kita tak harus mengatur ulang jadwal hanya untuk seseorang yang pada akhirnya – akan membatalkan rencana kita. Jagalah perasaan kita – bahkan di saat terkadang kita terlalu impulsif untuk menjaga perasaan orang lain – karena pada akhirnya, tidak selamanya apa yang kita mau dan apa yang mereka inginkan, berjalan bersisian.

Dalam hidup, kita perlu seseorang yang bisa kita andalkan, setiap saat. Percayalah, orang yang bisa diandalkan pada akhirnya diri kita sendiri. Ketika kita dikecewakan atau ditinggalkan, hanya diri kita yang berusaha untuk terus berdiri tegak dalam menjalani hidup. Jangan pernah mengasihani diri kita. Berbanggalah dengan perjalanan hidup yang sudah kita lalui.

Menyayangi tanpa ekspektasi, artinya kita harus lebih jujur. Jika kita tidak ingin terlibat dalam permainan yang tak akan pernah selesai, berhentilah bermain. Balas pesan yang kamu terima dari orang yang kamu sayangi. Temui dia dengan sepenuh hati selama kamu bisa. Katakan setulusnya apa yang ingin kamu sampaikan dan jangan luangkan waktu hanya untuk sesuatu yang tak pasti. Di dunia yang penuh dengan ketidakjujuran, janganlah jadi salah satu orang yang memiliki rasa itu. Jika kita ingin bertemu dengan orang yang baik, jadilah salah satunya. Berubahlah seperti yang kita inginkan dan terus berusaha menjadi versi terbaik dari dari kita.

Terkadang, menyayangi tanpa ekspektasi memerlukan kasih yang cukup dalam. Kamu ingat ketika kita mengecewakan orang lain atau tidak memenuhi harapan mereka, kita akan mencoba memaafkan diri sendiri. Kita sadar bahwa kita punya tanggung jawab, tetapi kita tidak melakukannya (meskipun lalu menyesal di kemudian hari), karena alasan yang sulit untuk dijelaskan kenapa kita mengambil pilihan itu. Ingatlah saat itu, masa itu. Dan mungkin, orang lain memiliki alasan yang sama ketika mereka mengecewakan kita – alasan yang ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Satu cerita yang mungkin kita tak akan pernah tahu dan tak perlu kita cari tahu.

Kita juga harus belajar untuk melepaskan diri dari harapan yang kita letakkan pada orang lain. Terkadang, jalur yang mereka pilih, langkah yang mereka ambil, tidak ada hubungannya dengan kita – seperti yang kita yakini. Belajarlah, untuk baik-baik saja dengan setiap pilihan. Belajarlah, untuk membebaskan diri dari rasa yang membuat kita selalu bertanya-tanya. Karena rasa sayang, terkadang tidak perlu ada alasan.

Tak mudah menyayangi tanpa ekspektasi, termasuk untuk belajar bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Kita mengerti bahwa setiap orang memiliki masalah mereka sendiri. Pada akhirnya, kita punya dua pilihan untuk menyayangi – pertama adalah untuk menerima seseorang apa adanya dan kedua, merelakannya, melepaskannya. Tidak ada di antara keduanya. Tidak ada tawar-menawar atau harapan kosong. Kita memiliki pilihan untuk berada di tempat yang kita ambil. Apabila kita terjebak di antaranya, rasanya pasti akan sangat melelahkan.

Untuk menyayangi tanpa ekspektasi, kita belajar untuk menghargai. Bahwa orang lain, bukanlah milik kita sepenuhnya: untuk bisa kita atur atau mengharapkan sesuatu dari mereka. Semakin kita berekspektasi akan orang lain, semakin kita akan kecewa pada akhirnya. Yang bisa kita lakukan adalah menghargai siapa yang kita miliki ketika kita bersamanya dan membiarkan mereka pergi ketika telah tiba saatnya.

Meminjamkan hati bisa jadi sama seperti ketika menawarkan kamar hotel yang kosong: merayakan orang lain ketika mereka datang dan membiarkan mereka pergi ketika mereka harus pergi. Memahami bahwa pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah menolak mereka untuk menjadi tamu, tetapi kita tidak bisa memaksa tamu yang ada, untuk selamanya tinggal.

Menyayangi tanpa ekspektasi membuat kita harus berprasangka baik dengan diri sendiri. Berani untuk membuka banyak pintu kemungkinan, memberikan tangan terbuka, menunjukkan hati, dan memahami bahwa tidak semua orang akan bersikap lembut terhadap kita. Tahu bahwa kita dapat pulih dari rasa sakit, luka sembuh dengan sendirinya, dan kita dapat mempercayai diri sendiri untuk menjauh dari situasi yang tidak membuat kita bahagia.

Karena ini tentang menempatkan ekspektasi pada orang lain: akar ekspektasi adalah kebutuhan. Kita butuh orang lain karena perlu mereka untuk menerima kita seutuhnya, memvalidasi, serta untuk meyakinkan bahwa kita berharga. Dan jika kita dapat melakukannya untuk diri kita sendiri – untuk memenuhi harapan dan keinginan kita sendiri – maka kebutuhan untuk orang lain melakukannya akan menghilang. Kebutuhan untuk mengakomodasi orang lain, untuk mencari validasi dari mereka yang tidak pantas bagi hati kita, akan juga menghilang.

Siapa yang harus disayangi dan siapa yang pergi akan menjadi lebih sederhana. Dan jutaan ekspektasi yang menjadi beban dalam hidup, akan segera beterbangan ke angkasa. (*)

Jangan Hujan Dulu, Aku Belum Cerita

Jangan hujan dulu, aku belum cerita. Tentang trotoar di pinggir jalan itu. Kamu ingat kan ketika titik-titik air mulai jatuh dan kita berlari kencang berkejaran, tak peduli sepatumu mulai berubah warna menjadi kecoklatan karena tumpukan tanah yang mulai basah? Aku tertawa lepas sambil mengambil sehelai tisu kering dan memberikan kepadamu. Kamu bergegas mengelap beberapa titik air di kacamatamu. Ah, aku bisa melihat matamu dengan lebih jelas. Kedua mata yang menjadi matahari yang selalu aku cari.

Jangan hujan dulu, aku kan belum cerita. Tentang cita-cita masa kecilku menjadi seorang petani. Aku selalu suka dengan pemandangan hamparan sawah yang aku lihat setiap perjalanan pulang ke rumah nenek.  Semudah itu aku jatuh hati – mungkin rasanya sama seperti pertama kali melihatmu. Bukannya bahagia bisa duduk seharian di pematang sambil memandangi lautan padi menguning sambil sesekali menyesap teh hangat?

Iya, jangan hujan dulu, aku belum cerita. Tentang lagu-lagu yang aku suka dan diam-diam kusenandungkan, sambil memandangmu dari kejauhan. Lagu-lagu yang membuat aku menemukanmu di sepotong lirik, lalu aku ulang tanpa pernah terasa usang. Aku tahu, kamu terkadang pura-pura bersemangat dengan pilihan laguku, sebaliknya aku akan selalu bersemangat ketika ada sedikit waktu bersamamu.

Tunggu, jangan hujan dulu, aku belum cerita. Tentang doa-doa yang aku kirimkan ke langit setiap hari. Kubuka dengan mengucapkan namamu dan kututup dengan mengamini harapanku. Tentang mantra-mantra yang aku selipkan di setiap langkahmu, agar kamu selalu kembali. Tapi sayangnya aku lupa, doaku kurang sempurna. Kamu kembali, tapi bukan untuk aku, tapi untuk nama yang kamu sebut di dalam doa-doamu, yang tak pernah ada namaku.

Jangan hujan dulu, aku belum cerita. Aku selalu berpikir mencintaimu adalah hal yang paling berat. Tapi aku salah, melupakanmu ternyata segalanya lebih dari itu.

Mungkin, biarkan saja hujan turun, karena akhirnya membuat aku tersadar, bahkan bumi pun perlu bersedih. Bukan hanya aku. (*)

Aku Mengenalnya Sudah Cukup Lama

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Mungkin sekitar tiga tahun atau lebih. Well, bukannya orang yang sedang jatuh cinta rasanya kita mengenal seseorang terasa lebih lama? Aku bertemu dengannya seperti adegan sinetron picisan yang sering diputar di layar televisi. Waktu itu, aku bergegas menuju kelas terakhir di hari Selasa. Aku melihat sekilas ke lengan kananku, oh, sudah pukul 4.30 sore. Pantas, kampus tampak jauh lebih sepi.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Aku berlari kecil sambil membawa dua buah buku di tangan kiri dan satu helai gorengan tempe mendoan di tangan kanan. Lalu entah darimana tiba-tiba kamu muncul dari arah berlawan. Kita bertabrakan dan saling bertatapan. Sialan, tempe mendoan aku jatuh ke lantai yang tampaknya belum dibersihkan sejak kemarin, padahal itu jatah makan malamku.

“Maaf, aku tak sengaja”. Ah, aku tak peduli dengan tatapan matamu yang bening di balik kacamata bundar, aku tak peduli dengan ponimu yang jatuh rapi, aku tak peduli dengan suaramu yang seperti berbisik tepat di telingaku, aku… Hm tapi wajah kikukmu membuatku tertarik. “Hi, boleh kenalan?”. Itu kata yang keluar pertama kali dari mulutku yang bergegas menghabiskan tempe mendoan yang masih tersisa di sela gigi. Ya, aku mengenal tempe mendoan sudah cukup lama juga, sih.

Sejak saat itu kita tak terpisahkan. Sarapan berdua berbagi nasi uduk di tangga kampus lantai 4 yang tersembunyi sambil berbagi earphone mendengarkan album favorit kita. Makan siang berdua disela-sela kesibukan tugas kampus yang terkadang membuat aku berpikir, memangnya menghitung algoritma akan terpakai nantinya? Toh aku tak pernah mau bekerja sesuai jurusanku nantinya. Atau malam-malam panjang dimana kita berjalan bersisian sambil melompati genangan air yang kadang kamu dengan sengaja menekan kaki kirimu ke kubangan, lalu air akan berhamburan ke sepatuku. Kesal. Tapi aku cinta.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Makanya aku heran kenapa sore ini kamu belum terlihat di lobby kampus? Biasanya di hari ketiga setiap minggu, kamu akan menjemputku dengan motor modifikasi, helm berwarna cokelat kulit hadiah ulang tahunku untukmu, dan jaket jeans yang kadang aku berpikir, kapan kamu terakhir mencucinya? Harusnya hari ini jatah kita untuk menelusuri jalanan Jakarta sambil merasakan rambutku beterbangan diterpa angin dan kedua tanganku memeluk erat di pinggang. Tapi dia belum muncul.

Awan di atas kepala semakin menggelap. Matahari sudah malu untuk menunjukkan sinarnya. Duh, air hujan mulai turun sedikit deras dan percikannya bisa aku rasakan di wajahku. Aku mengenalnya sudah cukup lama. Biasanya kamu tidak pernah terlambat datang menjemputku. Kamu di mana, ya? Aku bergegas membuka tas, mencari payung kecil transparan oleh-oleh dari Jepang yang ujungnya sudah mulai kusut, dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Sebaiknya aku menunggu di bawah pohon besar itu sambil berharap kamu akan melihatku dan kita bisa berteduh bersama-sama. Mungkin sambil makan cilok atau menceritakan hariku yang sebenarnya biasa saja.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Tapi entah kenapa kamu tidak pernah tiba. Iya, aku menunggumu sudah cukup lama. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika tiba-tiba petir menyambar pohon besar diatasku, beban berat menimpa tubuhku, dan aliran air hujan menjadi bewarna merah darah ke berbagai arah. Yang aku tahu, aku mengenalnya sudah cukup lama. Aku akan terus menunggumu di sini. Sampai suatu saat kamu akan menjemputku. Di musim hujan yang sama, berharap kamu tak akan membiarkan aku sendirian.

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Kamu paling suka dengan senandungku. Aku mulai menyanyikan satu dua bait lagu, lalu tubuhku melayang-layang, dan menghilang diam-diam ke balik bekas pohon besar dengan sekuntum bunga mawar merah di sampingnya, yang kamu bawa di setiap musim hujan. Untukku. (*)

Berduka Itu Tidak Ada Tanggal Kadaluwarsa; Kita Tak Perlu Merasa Bersalah Untuk Itu

Tujuh belas tahun yang lalu, saya kehilangan ibu untuk selamanya. Waktu itu, saya baru akan menginjak usia 21 tahun dan saya masih ingat ketika kakak saya dengan sangat tiba-tiba di malam hari meminta saya segera pulang ke Jakarta. In short story, ketika saya sampai di rumah, mimpi terburuk saya dalam hidup telah terjadi. Dan dunia saya tidak pernah sama lagi, sampai detik ini.

Belajar untuk menghadapi rasa duka bukanlah persoalan yang mudah. Tetiba banyak hal kecil yang mengingatkan saya akan sosok ibu yang tersampaikan dengan begitu sederhana. Sesimpel momen penting orang lain dalam hidup seperti ulang tahun, wisuda, sampai makan malam keluarga di meja sebelah, yang seringnya membuat ada kekosongan yang semakin dalam di hati.

Tetapi di balik itu saya berusaha untuk tegar. Saya ingat seminggu setelah ibu saya tiada, saya harus segera bekerja karena terikat kontrak yang sudah saya tandatangani jauh hari. I need to be strong and I believe I can handle this. Saya ingin menunjukkan ke semua orang bahwa saya tegar dan bisa menghadapi situasi berduka itu.

Photo by Kendall Lane on Unsplash

Namun, ketika saya semakin berusaha untuk tegar, saya semakin menyadari bahwa saya hanya membohongi diri sendiri. Bahkan sampai pada satu titik, I was lost. Saya tidak ingat apa yang saya lakukan dalam beberapa masa. Saya tidak ingat materi kuliah yang disampaikan oleh dosen pascakejadian itu. Saya tidak ingat isi jawaban di soal-soal ujian tengah/akhir semester di kampus. Saya merasakan kehilangan yang semakin hari semakin pelik. Intinya, saya tidak pernah selesai berduka karena ternyata saya memang tidak pernah untuk memulai rasa duka saya. Saya terlalu fokus untuk menjadi sosok yang ‘dewasa’ dan bisa diandalkan. Saya tidak memberikan kesempatan untuk merasakan marah, kecewa, ataupun depresi, serta untuk menerima semua rasa itu.

Saya ingat, beberapa orang mengatakan bahwa semua akan jauh lebih mudah seiring berjalannya waktu. Sesungguhnya, saya tidak berpikir hal itu akan terjadi. Saya percaya bahwa rasa duka itu tidak ada tanggal kadaluwarsa; kita hanya menemukan cara yang berbeda untuk menghadapi rasa itu dalam hidup kita, dan kita tak perlu merasa bersalah untuk itu. Karena ada masa dimana saya berusaha menunjukkan saya tegar, tetapi setiap menceritakan kenangan tentang ibu saya, it’s still melts me like butter.

Jika saya boleh berbicara dengan diri saya sendiri pada masa itu, saya akan menyampaikan bahwa kamu tidak perlu merasa bersalah dengan kesedihan yang kamu miliki. Kamu berhak untuk berduka sesering yang kamu mau, selama mungkin yang kamu inginkan. Lebih penting lagi, saya akan bilang kepadanya untuk memberikan waktu merasakan semua yang ada di dalam hati, daripada menyembunyikan perasaan itu dari orang lain, serta berusaha tampak tegar.

Saya mengakui bahwa kenangan tentang ibu masih membuat hati ini terasa kosong dan rasa ini tidak akan pernah tergantikan. Tapi saya juga menyadari, bahwa semangatnya akan selalu hidup bersama saya – dalam setiap senyum saya, tulisan yang saya curahkan, dan kenangan-kenangan yang selalu ada di setiap orang yang mengenalnya.

Saya pun menyadari, kunci dalam menghadapi rasa duka akan kehilangan orang yang kita cintai adalah untuk tidak mencoba dan menyegerakannya berhenti selekas mungkin. Kesedihan tidak akan berhenti karena kehendak kita, meskipun banyak waktu yang kita habiskan dengan mencoba sekuat mungkin untuk meyakinkan diri sendiri. Saat ini, saya lebih mensyukuri dan mengingat semua kenangan-kenangan indah bersamanya, bukan lagi rasa sedih yang muncul setelahnya.

In the end, we always feel that we lost a loved one too soon. My mother gave me twenty one good years. For me, it is an amazing way to look at the positive as I went through a dark time.

Selama masih ada waktu, syukuri waktu yang kita miliki dengan orang-orang tercinta di sekeliling kita dan pilihlah berbahagia. (*)

Alasan Untuk Bahagia

Tiba-tiba ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun yang lalu, ketika masa-masa saya menjalani OSPEK (Orientasi Studi & Pengenalan Kampus) sewaktu menjadi mahasiswa baru di UGM dulu. Seperti biasa kami harus mengikuti orientasi mahasiswa tingkat Universitas sebelum mengikuti orientasi tingkat masing-masing Fakultas.

Pada masa itu saya bisa dibilang mahasiswa yang (sebenarnya) berkecukupan. Selain saya sudah menjalani kuliah setahun sebelumnya di salah satu kampus swasta dengan biaya dari orang tua sepenuhnya, saya juga sudah bekerja paruh waktu di Dagadu dan terkadang juga ditambah menjadi Sales Promotion Boy berbagai produk. Artinya secara materi, saya memilikinya lebih dari apa yang saya minta.

Tetapi terkadang masih timbul rasa iri pada diri saya. Kenapa ya teman-teman saya bisa punya handphone lebih kekinian? Kenapa saya hanya pakai kendaraan yang biasa saja dibandingkan beberapa teman yang lain? Dan masih banyak pertanyaan lainnya di kepala saya. Saya sering merasa tidak cukup. Saya merasa… kurang bahagia.

Hingga suatu hari, sepulang dari OSPEK, saya mengobrol panjang dengan salah satu mahasiswi dari kota kecil di Lampung. Sosoknya kecil, sederhana, senyumnya manis, dan anaknya sangat cerdas – karena ia bisa diterima tanpa tes masuk pada waktu itu. Sepanjang jalan boulevard kampus dengan seragam hitam putih dan senja yang mulai turun, kami bercerita sambil tertawa tentang banyak hal sampai pada titik entah mengapa kami berdiskusi mengenai biaya hidup di Kota Jogja. Kemudian ia mengatakan, “Iya, Mas Dimas. Jogja ini kota yang murah, ya… Saya dikirimin orang tua 75.000 per bulan dan rasanya cukup sekali. Untung saya tinggal sama paman, jadi malah bisa nabung sedikit”.

Wajah saya seperti tertampar, “Dia bisa bahagia dan bersyukur dengan dana bulanan yang tak banyak. Sedangkan aku? Duit sebesar itu mungkin bisa terbuang begitu saja untuk nongkrong di warnet dalam seminggu dan hal-hal tak penting lainnya. Dan itu pun kadang masih terasa kurang”.

wil-stewart-14962-unsplash

Saya terdiam. Pikiran saya seperti memasuki labirin dan terasa sesak. Saya merasa sangat tidak bersyukur atas apa yang sudah saya miliki pada masa itu. Tuhan menegur dengan caranya.

Esok harinya, saya pun pulang bersama teman pria yang satu kelompok di OSPEK. Saya mampir ke kosnya dengan fasilitas yang tidak lebih baik dari apa yang saya tempati (pada masa itu saya tinggal di kamar tidak begitu besar, ditemani kipas angin, dan satu kamar mandi luar yang harus berbagi dengan enam orang lainnya). Dia pun menceritakan betapa nyaman bisa tinggal di sana dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Lalu kami melanjutkan bercerita, sambil menyantap makan malam nasi bungkus di atas satu piring plastik yang dibawanya dari kota kecil di Jawa Tengah. Dia bersyukur atas apa yang ia miliki pada saat itu, bisa makan dengan cukup, bertemu teman-teman baru, apalagi dia juga bercerita bahwa tidak mudah untuk bisa kuliah karena banyak pengorbanan yang harus dilakukan olehnya dan keluarganya.

Kedua teman ini memiliki satu kesamaan. Mereka datang untuk berjuang dan menunjukkan bahwa mereka bisa menghadapi segala rintangan. Mereka mungkin tidak seberuntung banyak orang dalam hal materi, tetapi mereka kaya akan rasa bahagia.

Ada satu hal yang saya pelajari,

“I truly respect the people who stay strong even when they have every right to break down”.

Jadi, sampai saat ini, ketika saya merasa jatuh atau mendapatkan jauh dari apa yang saya harapkan, saya akan melihat dan belajar dari sekitar, ternyata banyak hal kecil yang sepatutnya dapat membuat kita merasa kaya akan rasa bahagia.

Bahagia bisa minum kopi sambal bercerita di pagi hari, bahagia dikelilingi teman-teman kantor yang luar biasa, bahagia melihat keluarga yang sehat, dan bahagia karena kita memang akan selalu punya alasan untuk bahagia, baik dalam keadaan sulit atau pun senang.

Semua orang pantas untuk bahagia. Aku, kamu, dan mereka. (*)

Ini Tentang Hidup

Hidup bukanlah tentang menjadi siapa yang paling sukses. Bukan tentang seberapa banyak teman yang kita miliki. Atau bukan tentang berapa bilangan orang yang mengenal kita. Pun bukan tentang seberapa diterima atau tidaknya kita. Bukan tentang apakah kita memiliki rencana di akhir pekan ini. Atau apakah kita masih sendiri atau tidak? Ini bukan tentang siapa yang dekat dengan kita atau bahkan bila kita tak pernah bersama siapa pun. Ini bukan tentang siapa keluarga kita atau berapa banyak uang yang kita miliki. Bukan juga tentang mobil atau rumah yang kita punya. Atau kemana kita mendapatkan pendidikan. Atau juga seberapa jauh kita melakukan perjalanan. Bukan.

Ini bukan tentang seberapa menariknya kita. Atau pakaian apa yang kita kenakan, sepatu apa yang kita pakai, atau jenis musik apa yang kita dengarkan. Ini bukan tentang apakah rambut kita lurus, keriting, bergelombang, atau bahkan tak memilikinya sama sekali. Atau apabila kulit kita terlalu terang atau terlalu gelap.

Ini bukan tentang nilai yang kita dapatkan, seberapa pintar kita, atau seberapa jauh orang lain berpikir seberapa pintar kita. Atau jika guru/dosen atau atasan menyukai kita, atau jika dia yang kita taksir menyukai kita atau sebaliknya. Atau di kelompok mana kita berada atau seberapa bagus kita dalam olahraga. Ini bukan tentang apa yang tertulis di ‘selembar kertas’ tentang kita yang seakan-akan mewakili keseluruhan hidup kita.

nicholas-kwok-225380-unsplash

Tetapi hidup adalah tentang siapa yang kita cintai dan siapa yang kita sakiti. Ini tentang siapa yang membuat kita sukacita atau tidak bahagia. Ini tentang menjaga atau mengkhianati kepercayaan. Ini tentang persahabatan, tentang apa yang kita katakan, mungkin menyakitkan atau membesarkan hati. Tentang memulai gunjingan dan berkontribusi pada gosip kecil di sekitar. Ini tentang opini kita terhadap orang lain dan kepada siapa kita sebarkan.

Ini tentang siapa yang kita abaikan dengan sengaja. Ini tentang kecemburuan, ketakutan, rasa sakit, ketidaktahuan, dan prasangka yang terkadang tidak pada tempatnya. Ini tentang rasa benci dan sayang, lalu membiarkannya tumbuh dan menyebarkannya.

Tapi yang terpenting, ini tentang menggunakan hidup kita untuk menyentuh dengan lembut atau malah menyesatkan hati orang lain sedemikan rupa, karena hal ini tidak akan terjadi dengan sendirinya. Hanya kita yang memilih cara hati ini dipengaruhi dan mempengaruhi. Memilih dengan bijak, itulah yang menjadi inti dari hidup. Ini tentang hidup. Pertanyaannya, apakah kita sudah memilih hal yang benar sesuai hati nurani? (*)