Perasaan Itu Adalah Teman

Terkadang, hal terakhir yang ingin kita lakukan adalah mencoba menyelami perasaan kita sendiri. Bukankah mendalami apa yang kita rasakan di hati adakalanya terasa begitu menyakitkan?

Bahkan, sekadar untuk merasakan apa yang terjadi saja, bukan satu hal yang penting untuk diberikan dari 24 jam waktu kita.

Jika selama ini kamu merasa menyimpan perasaanmu seperti ada berkantong-kantong karung pasir di pundak, ya, saya tahu rasanya. Saya banyak belajar untuk menahan kepekaan dan emosi yang ada dengan tujuan bermaksud baik, untuk melindungi orang-orang di sekeliling saya.

Well, saya rasa, saya pasti tak sendiri, banyak juga yang melakukan hal yang sama. Semua itu mungkin saja terjadi karena kita merasa bahwa emosi yang nyata bukanlah hal utuh dan aman untuk ditunjukkan. Kita belajar bahwa menangis itu lemah. Kita belajar bahwa hidup akan berjalan ‘lebih lancar’ kalau kita bisa menelannya bulat-bulat dan melupakannya seperti angin. Sampai tanpa sadar, kita sampai pada titik untuk ‘meledak’.

Dan saya baru saja mengalaminya beberapa waktu yang lalu. Saya merasa semua akan baik-baik saja selama saya menanamkan ke dalam diri sendiri bahwa semua ‘pasti’ akan baik-baik saja. Afirmasi diri yang menjadi racun yang pelan-pelan menjalar dari ujung kepala sampai ke seluru penjuru badan.

Hingga tiba di satu titik. Di saat pandemi yang kita alami ini membuat banyak hal menjadi lebih sulit – mulai dari pekerjaan sampai hubungan personal. Dunia rasanya penuh dengan sekat dan kita hanya menjadi seperti hamster yang berlari di running wheel. Lalu kita juga harus menghadapi orang tercinta pergi untuk selamanya satu per satu. Otak saya tidak bisa memahami dengan baik. Hati saya bahkan lebih sulit untuk mengerti.

Perasaan ini belum pernah saya rasakan selama hidup saya, hingga pada satu titik: I’m not OK and it’s OK to be vulnerable.

Saya mulai membuka diri. Bercerita apa yang saya rasakan dan itu tak apa-apa. Menelpon teman baik hanya untuk mendengarku menangis selama sejam lebih dan itu tak apa-apa. Menceritakan kita tidak baik-baik saja dan itu juga tak apa-apa. Dari sana saya mengalami seperti ada gelombang kasih sayang dan dukungan yang begitu besar.

Kontrol emosi saya yang lemah namun hati-hati, terurai sepenuhnya. Ketika saya mulai bersandar pada aliran perasaan yang melegakan, alih-alih berlari ke arah yang berlawanan, hidup mulai mengirimi saya pengalaman yang saya butuhkan untuk belajar bagaimana menjelajahi gelombang serangan emosional.

Saya belajar bagaimana menyambut perasaan saya sebagai teman, daripada sebagai binatang buas yang ingin menghancurkan hidup saya—atau setidaknya hari-hari singkat saya.

Saya belajar di mana emosi akan bersembunyi di tubuh saya. Saya juga belajar betapa pentingnya merasakan emosi saya sehingga dapat terhubung dengan kata hati saya – yang terkadang lebih bijak. Menjebloskan diri untuk memproses perasaan saya, daripada membiarkannya menumpuk sampai menguras dan mengubah hidup saya.

Ketika saya mencoba untuk menjelaskan dengan tepat bagaimana saya terus belajar memahami perasaan saya, inilah yang muncul:

Setiap perasaan memiliki pesan

Mungkin pesan itu hanya untuk membiarkan diri kita merasakan emosi. Mungkin juga perasaan itu membimbing kita untuk menuju ke satu respons kita ke depannya.

Suatu kali, ketika saya terlalu khawatir dengan suasana baru dan ekspektasi yang ada di sekitar saya, ketakukan dan kecemasan mulai menjalar ke seluruh tubuh saya seperti pinball yang sugar rush tanpa alasan yang jelas. Dengan kata lain, saya seperti terjun bebas, tapi yang tidak masuk akal adalah: bahwa semua ini terjadi atas pilihan saya sendiri.

Ketika saya mulai menjelajahi perasaan ini semakin dalam, saya menyadari bahwa ada masalah yang lebih penting yang perlu saya pahami sebelum mengambil langkah selanjutnya.

Jika sesuatu tetap ada—kemarahan, ketakutan, kecemasan—cukup tanyakan apa yang ingin disampaikannya kepada diri kita. Duduk dengan tenang dan biarkan jawabannya muncul. Ketika kita sudah merasa damai, kita akan menemukan jawabannya. Hanya, apakah kita menyukai apa yang dikatakan oleh jawaban itu atau tidak. Saya juga masih belajar untuk memahami hal ini.

Memproses perasaan untuk memberi kita akses ke dalam batin kita sendiri

Di saat saya sendiri, saya mencoba mencerna perasaan saya dan terus memburu apa rasa yang ada yang mungkin selama ini pura-pura saya hindari. Terkadang saya harus meninggalkan pekerjaan sejenak hanya untuk berpikir lebih dalam.

Sejatinya, kita sudah memiliki semua jawaban yang kita perlukan di dalam diri—dan emosi adalah kendaraan utama untuk jawaban itu. Mempelajari bahasa perasaan akan memberi kita bantuan  pribadi yang terkadang kita hiraukan.

Semua perasaan yang kita bawa ini bisa jadi bukan milik kita

Terkadang kita tidak hanya membawa emosi diri sendiri tapi juga emosi orang-orang yang terhubung dengan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Seperti teman yang curhat, cerita yang kita baca di social media, berita duka yang kita terima, dan masih banyak hal lain. Emosi kita sendiri mungkin dipenuhi oleh emosi orang lain yang kita serap secara tidak sadar.

Beberapa hal di atas menjadi pelajaran penting yang cenderung saya sering melupakannya. Biasanya, saya akan bersembunyi dari perasaan saya dengan membuat diri ini sesibuk mungkin dan kemudian saya bertanya-tanya mengapa saya merasa begitu menghakimi dan tersesat.

Kita adalah manusia dan memiliki semua hak untuk mengungkapkan perasaan kita setidaknya kepada diri kita sendiri. Tertawa saat ingin, menangis saat ingin, dan meratapi saat jatuh seperti yang dilakukan…. Sederhanakan hidup.

Saya akhirnya menemukan keberanian untuk bangun dan merasakan perasaan saya. Membiarkan diri merasakan dan mengekspresikannya, daripada menekannya dan nantinya meledak. Hidup menjadi lebih ringan, setidaknya sampai hari ini. (*)

One thought on “Perasaan Itu Adalah Teman

  1. “Mempelajari bahasa perasaan akan memberi kita bantuan pribadi yang terkadang kita hiraukan.”

    Terima kasih telah menuliskannya dengan begitu baik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.