Berkarir Itu Pilihan, Bukan Sekadar Kesempatan

Sesungguhnya tak pernah terbesit di kepala saya, beberapa tahun kemudian saya bisa menikmati makan siang dengan penuh tawa dengannya – mantan klien saya ketika saya baru saja berkarir di ibukota Jakarta. Sosok perempuan tegas yang diam-diam saya kagumi: cerdas, cantik, dengan karir bagus di perusahaan multinational.

Padahal, dulu saya pernah hampir dibuat menangis karena dia. Ketika suatu hari dokumen yang saya susun, dibalas olehnya melalui email (oh, tentu saja dikirim juga ke email semua bos saya) dengan penuh coretan serta catatan berhuruf besar warna merah. Intinya: betapa buruknya hasil pekerjaan saya.

Tentu saya tak pernah lupa, karena hal itu merupakan pembelajaran bagi saya untuk berusaha lebih baik lagi. Well, tentu saja saat ini kami sudah bisa menertawakannya. Tetapi disela kami menyesap kopi, saya bertanya, kenapa dia berhenti meneruskan karirnya – yang saya percaya dia bisa mencapai posisi puncak di perusahaan mana saja yang dia mau.

“Saat itu aku merasa menjadi sosok yang berbeda, Dimas. Aku menjadi lebih pemarah dan ambisius. Setelah aku menyadari itu, I just should stop…”.

Sekarang, saya masih sama melihatnya: sosok perempuan yang cerdas, cantik, dan… rendah hati. Ia pun banyak meluangkan waktunya untuk terjun di kegiatan sosial. Diam-diam, saya semakin kagum dengannya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga bertemu dengan rekan kerja di perusahaan lama. Walau kami jarang bekerja sama, tetapi saya tahu, betapa rekan-rekan kerja saya di masa itu cukup menghindar untuk bisa berhubungan dengannya di berbagai proyek.

Kami duduk berhadapan. Saya pun bertanya kepadanya mengapa ia berpindah karir yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dia kerjaan. Senyatanya, saya selalu mengagumi kerja keras dan profesionalitas dia pada masa itu.

“Kalau aku bekerja di bidang yang sama Dim, aku tahu akan menjadi super demanding, too detail – lebih ke mencampuri pekerjaan mereka, dan membuat orang-orang yang bekerja sama denganku menjadi tidak nyaman. Aku ingin mengerjakan hal lain yang membuat aku terus belajar dan mau mendengarkan orang lain. Lebih menyenangkan sekarang, lho”.

Saya terdiam. Sungguh, saya tak pernah menyangka kata-kata itu akan keluar dari teman saya ini. Saya pun menyadari. Bekerja terkadang membentuk diri kita menjadi orang yang berbeda, sadar atau tidak sadar. Bisa menjadi baik atau bahkan… menjadi sosok yang menakutkan tanpa pernah kita sadari. Dulu saya selalu percaya dengan kata-kata:

“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.”

Tetapi memilih pekerjaan yang kita sukai juga memerlukan proses. Mungkin perlu setahun, dua tahun, bahkan belasan tahun. We never know.

Photo by Sergey Zolkin on Unsplash

Mataku seperti terbuka lebar. Mungkin kita punya rekan kerja (hey, atau diri kita sendiri) yang menjadi dementor bagi sekitar. Mengeluhkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan diri kita atau tidak bahagia dengan apa yang dijalani, sehingga memberi pengaruh buruk bagi sekeliling. Padahal, sebenarnya mungkin begitu banyak pintu keluar untuk kita menjadi lebih bahagia – diluar hanya menjadi robot pekerja yang menyelesaikan tugas untuk membayar tagihan setiap bulannya. Ini beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman beberapa teman saya:

Takut menyesal daripada gagal

Gagal berarti kita sudah mencoba dan belajar sesuatu. Menyesal, di sisi lain, datang sebagai respon terhadap apa yang tidak pernah terjadi. Tentu saja kegagalan itu menakutkan, tetapi penyesalan bahkan jauh lebih menyebalkan. Tidakkah lebih baik apabila kita pernah mencoba dan gagal daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali?

Ketika saya bertemu dengan salah satu teman saya – dulunya dia adalah konsultan manajemen di perusahaan global ternama. Saya sungguh kaget dengan tampilannya yang sekarang lebih santai, ceria, dan penuh semangat. Dia pun bercerita pekerjaannya yang sekarang waktunya lebih fleksibel, bertemu dengan banyak orang, dan lebih kreatif. Saya penasaran dan bertanya mengapa dia meninggalkan posisi dimana mungkin ribuan orang berlomba-lomba untuk menggantikan posisi dia.

“I still young. Aku masuk perusahaan itu untuk belajar dan mengambil ilmu sebanyak mungkin. Setelah aku merasa cukup, aku keluar untuk mendapatkan pekerjaan yang aku sukai. Kalau aku gagal, at least aku sudah mencoba di hidupku”.

Lebih baik melakukan apa yang kita sukai

“Jika saya bisa kompeten dalam hal yang saya minati, apa yang akan terjadi jika saya melakukan sesuatu yang benar-benar saya cintai?”

Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Saya percaya karya yang luar biasa hanya bisa datang dari tempat dimana kita mencintai untuk melakukannya. Ini adalah saatnya untuk memanfaatkan keahlian, bakat, dan sesuatu yang secara alami kita sukai. Saya sangat kagum (dan iri!) dengan sahabat saya, Hanny, yang sungguh melakukan ini dalam hidupnya. Silakan mampir di sini untuk membaca tulisan dan cerita hidup di blognya yang sangat bagus.

Setiap orang merasakan hal yang sama

Menyadari bahwa kita tidak sendirian dengan pikiran dan ketakutan mengenai hal ini membuat terasa lebih nyaman. Kita tidak lemah atau rapuh karena takut – toh kita hanyalah manusia biasa. Pahami bahwa apa yang kita rasakan sangat normal, tapi apakah bertindak atau tidak adalah pilihan kita sendiri.

Tentukan alasan

Alasan mantan klien saya di atas untuk meninggalkan pekerjaannya adalah untuk bekerja dengan tujuan baru, yaitu untuk membantu sesama. Ia meninggalkan pekerjaan di mana dia dapat mengekspresikan diri sepenuhnya dan memberi dampak positif. Pelajarannya: jika kita paham dengan baik mengapa kita meninggalkan pekerjaan sebelumnya, kita juga akan memahami risikonya. Ini akan membantu kita untuk tetap termotivasi dan membuat tetap fokus ke arah yang benar.

Life is a matter of choice not a matter of chance

Hidup ini selalu tentang pilihan. Ini yang dikatakan salah satu sahabat saya sejak jaman kuliah dulu. Kita tidak akan pernah tahu hidup kita akan menjadi lebih baik apabila kita tidak pernah mencobanya. Terkadang, kita harus berani mengambil langkah baru dan lakukan!

Tidakkah hidup lebih bermakna ketika dijalani dengan pilihan daripada menunggu kesempatan? Tidakkah kita lebih puas melihat ke belakang dan tahu bahwa kita telah melakukan semua yang kita bisa untuk menjalani hidup yang diinginkan daripada sekedar berharap?

Siapa tahu, dengan keberanian – dan tentunya dengan seijin Tuhan, mungkin kita mendapatkan semua yang kita harapkan. We never know until we try. (*)

Dan Lalu, Hujan Pun Turun

Jalan setapak itu masih sama dengan pemandangan yang tak pernah berubah: gedung-gedung berwarna semu, belasan taksi yang bergegas, dan wangi aneka jajanan di sepanjang trotoar. Di satu sudut coffee shop, aku duduk sendiri, di antara novel, segelas coffee latte yang sudah mulai dingin, dan pandangan mataku ke arah jalanan dari balik kaca yang mulai berembun.

Kukeluarkan secarik kertas dari dalam tas kulit berwarna cokelat usang, sesekali kuhela nafas dengan jeda sekian detik, dan mulai menulis untuk seorang sahabat…

Di sini, hujan tak pernah turun lagi. Titik-titik air dan pekik girang anak-anak kecil yang bermain air rintik hujan, sudah tak pernah lagi aku dengar. Iya, aku merasa kehilangan. Seperti rerumputan yang mulai tampak mengering di halaman luar jendela kamar. Kering. Membosankan.

Tapi entah kenapa aku selalu yakin, hujan pasti akan turun lagi: di pagi hari ketika harum roti bakar menyebar di dapurku, siang hari disaat pekerjaan masih menyita waktu, atau sore hari disaat kumerindukan semua tentang dia. Seseorang yang aku ceritakan. Satu sosok yang sama dan selalu bisa berubah wujud menjadi seperti yang aku mau. Entah menjadi bintang di langit, angin lembut di balik telinga, atau bahkan menjadi temaram lampu-lampu jalan di malam hari. Ia bisa menjadi apa saja. Aku bahagia, tersenyum, lalu patah hati untuk kesekian kalinya, karena ia tak pernah nyata ada.

Kadang, aku hanya ingin hidup di antara saat-saat aku akan terlelap. Ketika mata enggan terbuka, tetapi raga masih terjaga. Disaat aku bisa mendengar suara jangkrik sampai lolongan anjing – yang terkadang membuatku bergidik, tetapi membuat aku tersadar – aku masih hidup dan masih memikirkannya.

Iya. Hujan tak pernah turun lagi… Tetapi aku selalu membawa payung untuk berjaga-jaga. Toh kita tak akan pernah tahu kapan hujan akan turun. Bisa sekarang, lusa, ataupun minggu depan. Bukannya itu sama seperti cinta? Kita tak pernah bisa tahu kapan ia akan datang. Semua serba tiba-tiba, tanpa pesan. Walau aku tahu, andai kamu di sini, ketika rintik hujan mulai turun, kamu akan berpura-pura meniup awan-awan hitam di atas kepalaku, lalu kita tertawa dan berlari bergandengan tangan sambil menjejakkan kaki di atas kubangan air, lalu aku akan basah dan kamu tertawa lepas.

Tapi disini tiada dia, kamu, dan hujan. Aku hanya memiliki payung yang menemani. Benda yang menjagaku dari derasnya air yang terkadang ingin rasanya kuacuhkan membasuh basah wajahku, agar tak ada yang tahu – aku pun meneteskan air mata karena rindu. Tetapi aku enggan membasah, menggigil, tanpa ada dia yang bisa menghangatkanku. Walau ku mampu menggantinya menjadi secangkir cokelat panas di genggaman. Toh dia ada dimana saja, kapan saja, tanpa kenal waktu – di pikiran dan ujung pelupuk mataku. Apakah ini yang namanya cinta?

reza-shayestehpour-14238
Photo by reza shayestehpour on Unsplash
Iya, aku masih menyimpan satu foto yang aku simpan diam-diam di antara notes yang selalu kubawa. Fotonya yang tersenyum, entah karena apa. Tetapi aku tahu, dia bahagia dan aku selalu bahagia untuknya. I always know, someday I’ll look back on that picture and get butterflies because I miss it. Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?

Ah, sebaiknya aku bergegas pulang. Entah kenapa tiba-tiba cuaca diluar bermetamorfosa menjadi lebih kelam. Aku khawatir kali ini akan benar-benar akan luruh. Bukan, bukan hatiku yang luruh. Tetapi hujan yang turun tiba-tiba, seperti cinta… dan juga rindu.

See you soon!

Kuberlari kecil dan bergegas membuka pintu ke arah luar coffee shop. Alunan musik pun sayup-sayup kudengar, “should I give up or should I just keep chasing pavements?”. Dan lalu, hujan pun turun…. (*)

Lelaki Pecinta Hujan

Aku jatuh cinta pada hujan. Di saat sejuknya September dengan hiasan bulan yang menggantung bulat penuh bersinar. Cahayanya tajam luruh ke bumi dan berpendar hangat menimpa wajah gelisahku. Indah. Tapi sayang, aku hanya bisa menikmati bulan itu seorang diri. Ditemani senyum yang perih dan hembusan angin kencang dari selatan. Secangkir kopi pekat itu pun telah habis. Sekadar tersisa goresan tipis bubuk kopi basah di ujung cangkir, bekas sentuhan bibir yang gagu menahan tangis. Aku terduduk di sudut. Kurengkuh kedua kakiku dengan tangan, memeluknya seakan melepas rindu yang mendalam. Dalam pedih kukirimkan salam kepada sang bulan,

Bulan, jadikan aku satu diantara bintangmu, tak apa aku bersinar paling redup, setidaknya aku tak akan pernah sendiri lagi menanti cahayamu. Tolong aku, bulan!”

Setiap malam aku dendangkan sebaris kalimat itu dengan memandang bulan lekat-lekat. Bulat. Terkadang kunyanyikan dalam hati, kadang kutasbihkan beriringan dengan pendarnya bintang yang berkelip santun. Tapi, bulan tak pernah menjawab. Ia tetap berbinar dan mengalun pelan menanti pagi. Diantara doa-doa malam yang beterbangan dan embun pagi yang segera menetas.

Waktu terus mengalir. Di malam akhir bulan September, aku masih sendiri. Aku berputar menari-nari dibawah sinar bulan yang terang. Terus berputar dan berputar, seakan waktu menjadi hampa dan diam. Dingin pun kuhiraukan. Aku terus menari bersama kunang-kunang yang tersenyum riang. Hingga tiba-tiba tetes demi tetes air itu bermunculan tanpa duga. Aku terus berputar, lebih kencang lagi dan menari diiringi derasnya turun hujan yang melagu. Sapaan lentik airnya begitu bersahabat dan hangat. Alam berbahagia, hewan air berdansa, dan aku tertawa gembira.

Eureka! Aku menemukan kekasih jiwaku, hanya engkau hujan yang bisa membuatku tersenyum! Hanya engkau hujan!”

Hari berganti hari, malam demi malam aku pun terus menikmati hadirnya hujan. Kupuja setiap bulir air yang mengalir deras di setiap bait tubuh. Hingga hari-hari mendekap bulan, aku mendewakan tiap tetes hujan bagaikan kata-kata sejuta kekasih yang tak pernah bosan merasuk dalam. Ah, aku jatuh cinta padamu hujan. Sungguh. Aku takkan pernah bisa berpisah darimu. Tak akan. Selamanya. Cukup selamanya.

steve-halama-361313

Saat ini datang, tepat setahun sejak akhir September yang sejuk itu. Entah kenapa, hujan itu enggan untuk hadir kembali. Tanpa sepotong pesan. Hanya angkasa kosong tanpa kesan. Aku terpengkur seorang diri. Seperti jiwa kehilangan kasih. Kutatap bulan yang setengah bersinar. Lekat. Dua tetes air mengalir dari kedua mataku.

Dimana engkau hujan? Bosankah engkau denganku? Aku rapuh tanpa hadirmu.”

Malam tetap pekat. Geram dengan keadaan. Tampak malas bergayut diantara awan. Bintang-bintangpun seakan meratap sedih beraduk iba ke arahku. Mereka saling berceloteh dan kemudian memohon,

“Wahai bulan, katakanlah sebenarnya kepada dia, katakanlah!”

Bulan tak tahan lagi. Sinarnya meredup layu. Angin terhenti sesaat. Awan-awan pun menghindar. Tak ingin menganggu khusyukan kesedihan bulan.

Terpaksa aku harus bicara kepadamu, sayang. Berhentilah berharap kepada hujan. Kalian berbeda. Dia tak akan pernah mencintaimu. Jangan sia-siakan hidupmu demi angkuhnya hujan.”

Aku tercekat. Lidah ini tiba-tiba kaku dan dingin. Aku berteriak!

Kejamnya engkau hujan! Kenapa tak kau sampaikan sejak dulu jika kau tak akan pernah mencintaiku! Teganya engkau!”

Aku dikhianati. Bergegas kuberlari menyusuri bukit pasir putih itu. Tanpa arah kuterus berlari. Semakin kencang kulangkahkan kaki dan aku terjerembab jatuh tersungkur di ujung bukit. Betapa perihnya sekujur tubuh. Tapi aku lebih terkesan dengan perihnya hati ini. Dalam hening, tanpa sadar kuraih cepat sepotong bambu kecil tajam dengan tangan kiri. Kuangkat tinggi-tinggi diantara jemari. Kutantang langit. Kuteriakkan amarah.

“Lihat ini hujan! Aku tak peduli dengan hadirmu! Aku benci engkau hujan!”

Kuhujamkan bambu itu ke kedua mataku. Maha sakit, tapi aku membatu diam. Lalu dengan keras kuhunuskan bambu itu menuju hati. Darah pun mengalir. Deras. Dalam hembusan lirih kuberbisik,

Lebih baik aku buta mata, agar aku tak pernah lagi melihat engkau memberikan bulir airmu untuk sosok yang lebih engkau cintai. Aku pun butakan hatiku, agar tak perlu lagi kurasakan cinta hadir. Selamat tinggal hujan… Aku tak bisa menghentikan cintaku untukmu. Selamanya.”

Hujan pun lalu turun setetes demi setetes. Warna airnya pucat, tak lagi bening, tapi bewarna kemerahan, selegam darah yang telah terlanjur tertumpah demi kata-kata cinta. (*)

27 September 2006.

Ini Hari Yang Biasa

Ini hari yang biasa. Hari dimana aku terjaga di pagi hari, memikirkanmu. Hari dimana aku bergegas mencari hangatnya sinar mentari yang menggantikan pelukanmu. Hari dimana aku menyeduh secangkir teh hangat untuk menggantikan genggamanmu.

Iya, ini hari yang biasa. Hari dimana aku menghitung waktu demi waktu sambil bertanya-tanya kapan kita bertemu. Hari dimana aku mengeja huruf demi huruf lalu terangkai utuh namamu. Hari dimana aku rindu hingga aku bersenandung ditemani langit yang berubah menjadi warna abu.

Photo by Nick Nice on Unsplash

Aku sudah bilang kan hari ini hari yang biasa? Hari dimana wajahmu memenuhi ruanganku, buku dipangkuanku, sampai di setiap tetesan hujan yang luruh. Hari dimana aku tersipu untuk sekedar menatap wajahmu di foto itu. Hari dimana semua lagu seakan-akan berlirikan tentangmu.

Kamu tahu kenapa hari ini hari yang biasa? Karena aku terbiasa selalu menyebut namamu sampai bibir ini kelu. Karena aku terbiasa menari bersama bayanganmu di setiap sela waktu. Dan karena aku tahu, kamu pun terbiasa memikirkanku, di hari-hari biasamu. Setiap waktu. (*)

Jakarta, 16 Januari 2015

Jatuh Cintalah Pada Pria Yang Menulis

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menerjemahkan pertemuan pertama dalam barisan kata-kata, pertemuan selanjutnya dalam sekumpulan prosa, dan seterusnya tanpa pernah ada titik henti. Karena ia akan terus menulis di dalam pikirannya, mimpi-mimpinya, dan namamu selalu menjadi kosa kata pujaan dalam hidupnya.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Terkadang ia hanya akan menomorduakanmu dengan sebuah buku, sepotong puisi, atau barisan kisah manis yang ditemukannya pada secarik kertas. Tiada sosok lain yang akan menggantikanmu. Bagaimana mungkin bisa terganti ketika ia sangat percaya tiada kata-kata yang lebih indah selain yang mengalir dari bibirmu?

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan membawamu pergi mengembara di dunianya dengan rangkaian cerita dan membiarkanmu yang memilih akhir kisahnya. Ia tak punya kuasa. Karena baginya, hanya kamu seorang yang menjadi titik perhentian dan selalu menjadi imajinasi terindahnya. Kemarin, hari ini, dan esok hari.

Photo by Calum MacAulay on Unsplash

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menunggumu dengan secangkir kopi hangat, musik mengalun di telinga, dan sehelai kertas untuk merekam semua tentangmu. Ia tak akan pernah berkeberatan untuk menantimu di mana saja dan kapan saja. Sejatinya, selama di sana ada kamu – dan ketika selama ia percaya, kamu akan hadir untuknya setelah itu.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menyusun kisahmu, menyisipkan kisahnya, lalu dijadikan satu roman utuh. Tentu kamu diperkenankan menambahkan kisah sedih, gusar, atau tawa di dalamnya, karena bukankah selalu ada lembaran kosong yang bisa kalian gores bersama?

Jadi, jatuh cintalah pada pria yang menulis. Temukanlah ia. Karena ia tersembunyi di ruang-ruang sepi, lorong-lorong toko buku, atau kedai kopi di sudut jalan itu. Mungkin ia terlalu lama menunggumu dan waktunya tak lama lagi. Karena pria yang menulis, tak selamanya akan menulis. Ia juga akan menjadi pria yang menjawab semua pertanyaanmu, pria yang memelukmu ketika kamu bersedih, pria yang akan menyimpan rahasiamu, dan pria yang selalu terjaga di antara perjalanan waktu hidupmu. (*)

Berduka Itu Tidak Ada Tanggal Kadaluwarsa; Kita Tak Perlu Merasa Bersalah Untuk Itu

Di bulan ini enam belas tahun yang lalu, saya kehilangan ibu untuk selamanya. Waktu itu, saya baru akan menginjak usia 21 tahun dan saya masih ingat ketika kakak saya dengan sangat tiba-tiba di malam hari meminta saya segera pulang ke Jakarta. In short story, ketika saya sampai di rumah, mimpi terburuk saya dalam hidup telah terjadi. Dan dunia saya tidak pernah sama lagi, sampai detik ini.

Belajar untuk menghadapi rasa duka bukanlah persoalan yang mudah. Tetiba banyak hal kecil yang mengingatkan saya akan sosok ibu dengan begitu sederhana. Sesimpel momen penting orang lain dalam hidup seperti ulang tahun, wisuda, sampai makan malam keluarga di meja sebelah, membuat ada kekosongan yang semakin dalam di hati.

Tetapi di balik itu saya berusaha untuk tegar. Saya ingat seminggu setelah ibu saya tiada, saya harus bekerja karena terikat kontrak yang sudah saya tandatangani jauh hari. I need to be strong and I believe I can handle this. Saya ingin menunjukkan ke semua orang bahwa saya tegar dan bisa menghadapi situasi berduka itu.

Photo by Kendall Lane on Unsplash

Namun, ketika saya semakin berusaha untuk tegar, saya semakin menyadari bahwa saya hanya membohongi diri sendiri. Bahkan sampai pada satu titik, I was lost. Saya tidak ingat apa yang saya lakukan dalam beberapa masa. Saya tidak ingat materi kuliah yang disampaikan oleh dosen pasca kejadian itu. Saya tidak ingat isi jawaban di soal-soal ujian semester di kampus. Saya merasakan kehilangan yang semakin hari semakin pelik. Intinya, saya tidak pernah selesai berduka karena ternyata saya memang tidak pernah untuk memulai rasa duka saya. Saya terlalu fokus untuk menjadi sosok yang ‘dewasa’ dan bisa diandalkan. Saya tidak memberikan kesempatan untuk merasakan marah, kecewa, ataupun depresi, serta untuk menerima semua rasa itu.

Saya ingat, beberapa orang mengatakan bahwa semua akan jauh lebih mudah seiring berjalannya waktu. Sesungguhnya, saya tidak berpikir hal itu akan terjadi. Saya percaya bahwa rasa duka itu tidak ada tanggal kadaluwarsa; kita hanya menemukan cara yang berbeda untuk menghadapi rasa itu dalam hidup kita, dan kita tak perlu merasa bersalah untuk itu. Karena ada masa dimana saya berusaha menunjukkan saya tegar, tetapi setiap menceritakan kenangan tentang ibu saya, it’s still melts me like butter.

Jika saya boleh berbicara dengan diri saya sendiri pada masa itu, saya akan bilang kamu tidak perlu merasa bersalah dengan kesedihan yang kamu miliki. Kamu berhak untuk berduka sesering yang kamu mau, selama yang kamu inginkan. Lebih penting lagi, saya akan bilang kepadanya untuk memberikan waktu merasakan semua yang ada di dalam hati, daripada menyembunyikan perasaan itu dari orang lain, serta berusaha tampak tegar.

Saya mengakui bahwa kenangan tentang ibu masih membuat hati ini terasa kosong dan rasa ini tidak akan pernah tergantikan. Tapi saya juga menyadari, bahwa semangatnya akan selalu hidup bersama saya – dalam setiap senyum saya, tulisan yang saya curahkan, dan kenangan-kenangan yang selalu ada di setiap orang yang mengenalnya.

Saya pun menyadari, kunci dalam menghadapi rasa duka akan kehilangan orang yang kita cintai adalah untuk tidak mencoba dan menyegerakannya berhenti selekas mungkin. Kesedihan tidak akan berhenti karena kehendak kita, meskipun banyak waktu yang kita habiskan dengan mencoba sekuat mungkin untuk meyakinkan diri sendiri. Saat ini, saya lebih mensyukuri dan mengingat semua kenangan-kenangan indah bersamanya, bukan lagi rasa sedih yang muncul setelahnya.

In the end, we always feel that we lost a loved one too soon. My mother gave me twenty good years. For me, it is an amazing way to look at the positive as I went through a dark time.

Selama masih ada waktu, syukuri waktu yang kita miliki dengan orang-orang tercinta di sekeliling kita dan pilihlah berbahagia. (*)

Bukankah Bahagia Itu Seharusnya Sederhana?

Banyak hal yang bisa kita syukuri dalam hidup ini. Well, I have heard that so many times in my life. Saya percaya kamu pun demikian. Tetapi dalam hidup, kita terbiasa mensyukuri dan berbahagia karena pencapaian hal-hal ‘besar’. Keberhasilan, kerja keras, kepemilikan, dan sederet perolehan yang menjadi tujuan hidup.

Beberapa bulan yang lalu hidup saya seperti layaknya sebagian besar pekerja di Jakarta. Bangun pagi, menghabiskan waktu di kantor, lalu pulang ketika larut malam. Terkadang, kebahagiaan saya pun menjadi terukur hanya seluas layar telepon genggam. Saya menakar kebahagiaan hidup saya dengan apa yang dilakukan orang lain.

Sampai tiba-tiba saya jatuh sakit dan harus beristirahat total cukup lama. Rasanya kebahagiaan saya hilang begitu saja. Tetapi kebahagiaan yang mana? Saya pun berpikir.

Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak punya banyak waktu bercerita tentang banyak hal dengan kakak-kakak saya. Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak pernah sadar begitu perhatiannya sahabat-sahabat saya. Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak pernah sadar bahwa betapa berharganya kesehatan itu. Apa yang saya lalui pada masa itu mengajariku apa arti kesabaran, kasih sayang, dan mungkin, kebahagiaan itu sendiri.

Kita punya cara bahagia masing-masing dan bahagia itu sangat individual. Kita tidak berhak menilai orang lain kurang bahagia hanya karena mereka tidak memiliki pola pikir atau gaya hidup yang sama dengan kita.

Hidup ini bukanlah kompetisi. Siapa yang paling update di social media. Siapa yang paling jauh melakukan perjalanan keliling dunia. Siapa yang paling berhasil di antara teman sesama. Siapa yang paling bahagia.

Saya merasa, saya tidak harus memenangkan apapun karena tidak ada kompetisi. Saya jadi mencoba sejenak berhenti dan merasakan kebahagiaan dari sekeliling.

Bahagia itu ternyata penuh kesederhanaan. Seperti kiriman foto lucu dari sahabat, melihat pemandangan di luar jendela ketika perjalanan ke kantor, atau pun berterima kasih karena bisa tidur dengan nyaman dan bangun dengan keadaan lebih sehat keesokan hari.

Seorang teman pernah berkata,

“Kita bisa memilih untuk menjadi korban karena keadaan atau kita mensyukuri apa yang telah kita jalani dan apa yang akan kita hadapi ke depannya”.

Saya pun sekarang memilih untuk bersyukur untuk setiap detik yang saya jalani. Bukankah bahagia itu seharusnya sederhana? (*)