Berkarir Itu Pilihan, Bukan Sekadar Kesempatan

Sesungguhnya tak pernah terbesit di kepala saya, beberapa tahun kemudian saya bisa menikmati makan siang dengan penuh tawa dengannya – mantan klien saya ketika saya baru saja berkarir di ibukota Jakarta. Sosok perempuan tegas yang diam-diam saya kagumi: cerdas, cantik, dengan karir bagus di perusahaan multinational.

Padahal, dulu saya pernah hampir dibuat menangis karena dia. Ketika suatu hari dokumen yang saya susun, dibalas olehnya melalui email (oh, tentu saja dikirim juga ke email semua bos saya) dengan penuh coretan serta catatan berhuruf besar warna merah. Intinya: betapa buruknya hasil pekerjaan saya.

Tentu saya tak pernah lupa, karena hal itu merupakan pembelajaran bagi saya untuk berusaha lebih baik lagi. Well, tentu saja saat ini kami sudah bisa menertawakannya. Tetapi disela kami menyesap kopi, saya bertanya, kenapa dia berhenti meneruskan karirnya – yang saya percaya dia bisa mencapai posisi puncak di perusahaan mana saja yang dia mau.

“Saat itu aku merasa menjadi sosok yang berbeda, Dimas. Aku menjadi lebih pemarah dan ambisius. Setelah aku menyadari itu, I just should stop…”.

Sekarang, saya masih sama melihatnya: sosok perempuan yang cerdas, cantik, dan… rendah hati. Ia pun banyak meluangkan waktunya untuk terjun di kegiatan sosial. Diam-diam, saya semakin kagum dengannya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga bertemu dengan rekan kerja di perusahaan lama. Walau kami jarang bekerja sama, tetapi saya tahu, betapa rekan-rekan kerja saya di masa itu cukup menghindar untuk bisa berhubungan dengannya di berbagai proyek.

Kami duduk berhadapan. Saya pun bertanya kepadanya mengapa ia berpindah karir yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dia kerjaan. Senyatanya, saya selalu mengagumi kerja keras dan profesionalitas dia pada masa itu.

“Kalau aku bekerja di bidang yang sama Dim, aku tahu akan menjadi super demanding, too detail – lebih ke mencampuri pekerjaan mereka, dan membuat orang-orang yang bekerja sama denganku menjadi tidak nyaman. Aku ingin mengerjakan hal lain yang membuat aku terus belajar dan mau mendengarkan orang lain. Lebih menyenangkan sekarang, lho”.

Saya terdiam. Sungguh, saya tak pernah menyangka kata-kata itu akan keluar dari teman saya ini. Saya pun menyadari. Bekerja terkadang membentuk diri kita menjadi orang yang berbeda, sadar atau tidak sadar. Bisa menjadi baik atau bahkan… menjadi sosok yang menakutkan tanpa pernah kita sadari. Dulu saya selalu percaya dengan kata-kata:

“Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.”

Tetapi memilih pekerjaan yang kita sukai juga memerlukan proses. Mungkin perlu setahun, dua tahun, bahkan belasan tahun. We never know.

Photo by Sergey Zolkin on Unsplash

Mataku seperti terbuka lebar. Mungkin kita punya rekan kerja (hey, atau diri kita sendiri) yang menjadi dementor bagi sekitar. Mengeluhkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan diri kita atau tidak bahagia dengan apa yang dijalani, sehingga memberi pengaruh buruk bagi sekeliling. Padahal, sebenarnya mungkin begitu banyak pintu keluar untuk kita menjadi lebih bahagia – diluar hanya menjadi robot pekerja yang menyelesaikan tugas untuk membayar tagihan setiap bulannya. Ini beberapa hal yang saya pelajari dari pengalaman beberapa teman saya:

Takut menyesal daripada gagal

Gagal berarti kita sudah mencoba dan belajar sesuatu. Menyesal, di sisi lain, datang sebagai respon terhadap apa yang tidak pernah terjadi. Tentu saja kegagalan itu menakutkan, tetapi penyesalan bahkan jauh lebih menyebalkan. Tidakkah lebih baik apabila kita pernah mencoba dan gagal daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali?

Ketika saya bertemu dengan salah satu teman saya – dulunya dia adalah konsultan manajemen di perusahaan global ternama. Saya sungguh kaget dengan tampilannya yang sekarang lebih santai, ceria, dan penuh semangat. Dia pun bercerita pekerjaannya yang sekarang waktunya lebih fleksibel, bertemu dengan banyak orang, dan lebih kreatif. Saya penasaran dan bertanya mengapa dia meninggalkan posisi dimana mungkin ribuan orang berlomba-lomba untuk menggantikan posisi dia.

“I still young. Aku masuk perusahaan itu untuk belajar dan mengambil ilmu sebanyak mungkin. Setelah aku merasa cukup, aku keluar untuk mendapatkan pekerjaan yang aku sukai. Kalau aku gagal, at least aku sudah mencoba di hidupku”.

Lebih baik melakukan apa yang kita sukai

“Jika saya bisa kompeten dalam hal yang saya minati, apa yang akan terjadi jika saya melakukan sesuatu yang benar-benar saya cintai?”

Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus saya temukan jawabannya. Saya percaya karya yang luar biasa hanya bisa datang dari tempat dimana kita mencintai untuk melakukannya. Ini adalah saatnya untuk memanfaatkan keahlian, bakat, dan sesuatu yang secara alami kita sukai. Saya sangat kagum (dan iri!) dengan sahabat saya, Hanny, yang sungguh melakukan ini dalam hidupnya. Silakan mampir di sini untuk membaca tulisan dan cerita hidup di blognya yang sangat bagus.

Setiap orang merasakan hal yang sama

Menyadari bahwa kita tidak sendirian dengan pikiran dan ketakutan mengenai hal ini membuat terasa lebih nyaman. Kita tidak lemah atau rapuh karena takut – toh kita hanyalah manusia biasa. Pahami bahwa apa yang kita rasakan sangat normal, tapi apakah bertindak atau tidak adalah pilihan kita sendiri.

Tentukan alasan

Alasan mantan klien saya di atas untuk meninggalkan pekerjaannya adalah untuk bekerja dengan tujuan baru, yaitu untuk membantu sesama. Ia meninggalkan pekerjaan di mana dia dapat mengekspresikan diri sepenuhnya dan memberi dampak positif. Pelajarannya: jika kita paham dengan baik mengapa kita meninggalkan pekerjaan sebelumnya, kita juga akan memahami risikonya. Ini akan membantu kita untuk tetap termotivasi dan membuat tetap fokus ke arah yang benar.

Life is a matter of choice not a matter of chance

Hidup ini selalu tentang pilihan. Ini yang dikatakan salah satu sahabat saya sejak jaman kuliah dulu. Kita tidak akan pernah tahu hidup kita akan menjadi lebih baik apabila kita tidak pernah mencobanya. Terkadang, kita harus berani mengambil langkah baru dan lakukan!

Tidakkah hidup lebih bermakna ketika dijalani dengan pilihan daripada menunggu kesempatan? Tidakkah kita lebih puas melihat ke belakang dan tahu bahwa kita telah melakukan semua yang kita bisa untuk menjalani hidup yang diinginkan daripada sekedar berharap?

Siapa tahu, dengan keberanian – dan tentunya dengan seijin Tuhan, mungkin kita mendapatkan semua yang kita harapkan. We never know until we try. (*)

3 thoughts on “Berkarir Itu Pilihan, Bukan Sekadar Kesempatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s