Jatuh Cintalah Pada Pria Yang Menulis

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menerjemahkan pertemuan pertama dalam barisan kata-kata, pertemuan selanjutnya dalam sekumpulan prosa, dan seterusnya tanpa pernah ada titik henti. Karena ia akan terus menulis di dalam pikirannya, mimpi-mimpinya, dan namamu selalu menjadi kosa kata pujaan dalam hidupnya.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Terkadang ia hanya akan menomorduakanmu dengan sebuah buku, sepotong puisi, atau barisan kisah manis yang ditemukannya pada secarik kertas. Tiada sosok lain yang akan menggantikanmu. Bagaimana mungkin bisa terganti ketika ia sangat percaya tiada kata-kata yang lebih indah selain yang mengalir dari bibirmu?

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan membawamu pergi mengembara di dunianya dengan rangkaian cerita dan membiarkanmu yang memilih akhir kisahnya. Ia tak punya kuasa. Karena baginya, hanya kamu seorang yang menjadi titik perhentian dan selalu menjadi imajinasi terindahnya. Kemarin, hari ini, dan esok hari.

Photo by Calum MacAulay on Unsplash

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menunggumu dengan secangkir kopi hangat, musik mengalun di telinga, dan sehelai kertas untuk merekam semua tentangmu. Ia tak akan pernah berkeberatan untuk menantimu di mana saja dan kapan saja. Sejatinya, selama di sana ada kamu – dan ketika selama ia percaya, kamu akan hadir untuknya setelah itu.

Jatuh cintalah pada pria yang menulis. Ia akan menyusun kisahmu, menyisipkan kisahnya, lalu dijadikan satu roman utuh. Tentu kamu diperkenankan menambahkan kisah sedih, gusar, atau tawa di dalamnya, karena bukankah selalu ada lembaran kosong yang bisa kalian gores bersama?

Jadi, jatuh cintalah pada pria yang menulis. Temukanlah ia. Karena ia tersembunyi di ruang-ruang sepi, lorong-lorong toko buku, atau kedai kopi di sudut jalan itu. Mungkin ia terlalu lama menunggumu dan waktunya tak lama lagi. Karena pria yang menulis, tak selamanya akan menulis. Ia juga akan menjadi pria yang menjawab semua pertanyaanmu, pria yang memelukmu ketika kamu bersedih, pria yang akan menyimpan rahasiamu, dan pria yang selalu terjaga di antara perjalanan waktu hidupmu. (*)

Bukankah Bahagia Itu Seharusnya Sederhana?

Banyak hal yang bisa kita syukuri dalam hidup ini. Well, I have heard that so many times in my life. Saya percaya kamu pun demikian. Tetapi dalam hidup, kita terbiasa mensyukuri dan berbahagia karena pencapaian hal-hal ‘besar’. Keberhasilan, kerja keras, kepemilikan, dan sederet perolehan yang menjadi tujuan hidup.

Beberapa bulan yang lalu hidup saya seperti layaknya sebagian besar pekerja di Jakarta. Bangun pagi, menghabiskan waktu di kantor, lalu pulang ketika larut malam. Terkadang, kebahagiaan saya pun menjadi terukur hanya seluas layar telepon genggam. Saya menakar kebahagiaan hidup saya dengan apa yang dilakukan orang lain.

Sampai tiba-tiba saya jatuh sakit dan harus beristirahat total cukup lama. Rasanya kebahagiaan saya hilang begitu saja. Tetapi kebahagiaan yang mana? Saya pun berpikir.

Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak punya banyak waktu bercerita tentang banyak hal dengan kakak-kakak saya. Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak pernah sadar begitu perhatiannya sahabat-sahabat saya. Kalau saya tidak sakit, mungkin saya tak pernah sadar bahwa betapa berharganya kesehatan itu. Apa yang saya lalui pada masa itu mengajariku apa arti kesabaran, kasih sayang, dan mungkin, kebahagiaan itu sendiri.

Kita punya cara bahagia masing-masing dan bahagia itu sangat individual. Kita tidak berhak menilai orang lain kurang bahagia hanya karena mereka tidak memiliki pola pikir atau gaya hidup yang sama dengan kita.

Hidup ini bukanlah kompetisi. Siapa yang paling update di social media. Siapa yang paling jauh melakukan perjalanan keliling dunia. Siapa yang paling berhasil di antara teman sesama. Siapa yang paling bahagia.

Saya merasa, saya tidak harus memenangkan apapun karena tidak ada kompetisi. Saya jadi mencoba sejenak berhenti dan merasakan kebahagiaan dari sekeliling.

Bahagia itu ternyata penuh kesederhanaan. Seperti kiriman foto lucu dari sahabat, melihat pemandangan di luar jendela ketika perjalanan ke kantor, atau pun berterima kasih karena bisa tidur dengan nyaman dan bangun dengan keadaan lebih sehat keesokan hari.

Seorang teman pernah berkata,

“Kita bisa memilih untuk menjadi korban karena keadaan atau kita mensyukuri apa yang telah kita jalani dan apa yang akan kita hadapi ke depannya”.

Saya pun sekarang memilih untuk bersyukur untuk setiap detik yang saya jalani. Bukankah bahagia itu seharusnya sederhana? (*)

Kita Tidak Selalu Bertemu Dengan Orang Yang Tepat (Dan Itu Tak Apa)

Seorang teman sedang gundah hatinya. Pasangan sempurna yang ia nanti selama ini rasanya tak kunjung tiba. Sesungguhnya ia bertemu dengan beberapa individu yang menarik hati, tapi… It just does not feel right. Lalu ia bertanya kepada Ibunya mengapa ia memilih Ayah untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya. Ibu menjawab dengan bijak,

Jangan pernah mencari pasangan yang sempurna, tapi carilah sosok yang kamu bisa terima kesalahan-kesalahannya. Kita pasti bertemu dengan banyak orang yang bisa menjadi pilihan, tetapi semua pasti memiliki kekurangan atau kesalahan yang pernah/akan dilakukannya. Sekarang kamu hanya perlu berpikir dalam, pilih sosok yang paling bisa kamu terima untuk menerima kesalahan-kesalahannya dan bersedia memahaminya selama di sisa hidup kamu. Apakah kamu sanggup?

Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan rasanya kita semua paham mengenal hal ini. Tetapi ketika kita memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan satu sosok dalam hidup kita dan memberikan ruang yang cukup luas di hati untuk ia bisa menghiasi dengan beribu cerita, rasanya tidak pernah akan semudah itu.

Photo by Irfan Nur Ilman

Bagaimana kalau tiba-tiba di tengah perjalanan kita menemukan kekurangan yang membuat kita tak nyaman? Bagaimana kalau ternyata kita menemukan yang lebih baik daripadanya? Dan barisan pertanyaan bagaimana lainnya yang terus bermunculan.

Tapi pernahkah kita merenung, bagaimana kalau kesalahan yang dimiliki pasangan kita tak lebih baik dari kekurangan kita? Bagaimana kalau kesalahannya karena apa yang telah kita perbuat? Atau bagaimana kalau ia menerima kekurangan kita sebagai tanda cinta yang tak kasat mata? Kasih sayang sendiri tidaklah sempurna. Ia tidak berjalan sendiri, tetapi seperti gengaman tangan yang perlu jari-jemari untuk membuatnya penuh.

Kita tidak bisa selalu bertemu dengan sosok yang sempurna seperti yang kita inginkan. Tetapi kita bisa mencari pasangan yang membuat kita terasa lengkap. Bukanlah menjadikan kesalahan terasa ganjil, tetapi menciptakan dua perasaan menjadi terasa genap.

Jadi, tidak selamanya kita bisa bertemu dengan orang yang tepat dan sungguh, itu tak apa. Sudahkah kamu menemukan sosok yang bisa kamu terima kesalahan-kesalahannya? (*)

Memilih Untuk Bahagia

Pernahkah kamu berambisi untuk mendapatkan sesuatu atau mengejar satu tujuan, lalu ketika kamu telah mencapainya ternyata kamu tersadar hal itu bukanlah tujuan akhir yang kamu cari? Saya pernah dan tidak hanya sekali. Terkadang apa yang kita harapkan dan bahkan sudah kita persiapkan dari jauh hari, ternyata tidak berbanding lurus dengan harapan dan tujuan hidup yang tiba-tiba berubah karena dalam perjalan hidup akan selalu menemui kejutan baru. Perpisahan, pertemuan, kebahagiaan, kesedihan, kematian, dan seluruh kejutan-kejutan kecil atau pun besar dalam hidup.

Photo by Melfin Salim

Seorang sahabat baru saja mengatakan kepada saya,

Ingat gak Dim dulu kita berjuang keras dan ambisius melakukan banyak hal? Sekarang aku merasa sampai titik dimana aku tak lagi berambisi mendapatkan gaji lebih tinggi, posisi karir lebih di atas, atau hal-hal lain yang seakan-akan aku harus menunjukkan kepada semua orang kalau aku… berhasil. Berhasil untuk siapa? Sekarang yang paling penting aku harus merasa nyaman dengan apa yang aku kerjakan, apa yang aku pikirkan, dan menjadi bahagia sebagai diri aku sendiri.

Saya mengangguk-angguk setuju sambil menyesap secangkir kopi latte. Saya sendiri berpikir, hidup bukanlah hanya sekedar mengejar ambisi atau passion. Tidak semua orang memiliki endurance yang sama untuk bisa gagal berkali-kali sampai berhasil. Memilih satu hal yang bisa membuat kita bangun tidur dengan bahagia setiap hari, tidak merasa tertekan ketika mengingat besok sudah kembali hari Senin, atau percaya bahwa kita melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain, rasanya sudah lebih dari cukup. Karena bagi saya tidak semua orang terlahir di dunia ini untuk menjadi pemeran utama dalam hidup. Tepuk tangan pasti akan terhenti, lampu sorot akan kembali meredup, dan tirai akan menutup.

Walau ratusan pertanyaan masih tetap beterbangan di atas kepala. Apakah tidak apa menjadi bukan siapa-siapa? Apakah salah menjadi serba biasa? Dan apakah artinya saya mengalah dan kalah? Tetapi teman saya pernah berkata,

Pilihlah bahagia karena menjadi bahagia adalah satu hal yang bisa kita pilih.

Lalu saya pun memilih untuk bahagia. Walau perjalanan hidup akan selalu ada kejutan. Bukankah itu esensi menjalani hidup? Jadi, sudahkah kamu memilih bahagia? (*)

Perjalanan Kita Bukan Untuk Menemukan Cinta, Tapi Lebih Dari Itu

Terkadang hidup kita bisa menjadi begitu sepi dan berharap bisa bertemu dengan seseorang yang bisa membuat hati terasa lebih hangat. Seseorang yang bisa memberikan pelukan yang menjadi semangat menjalani hari. Dan seseorang yang bisa membuat kita jatuh cinta berkali-kali. Tetapi adakala cinta sendiri adalah kosa kata yang asing. Terlalu sering mendengarnya tetapi kita tak pernah mengerti.

Photo by Ivan Loviano

Mungkin perjalanan yang kita jalani bukanlah untuk menemukan cinta, tetapi tentang hal lain. Satu, atau dua hal yang lebih besar dari itu. Satu, atau dua hal yang akan mengubah dunia kita.

Perjalanan untuk menemukan keinginan besar yang ingin dikejar, perjalanan untuk menjalani kehidupan yang sudah diimpikan selama ini, perjalanan untuk menemukan tempat memulai hidup yang baru, atau perjalanan untuk bertemu orang-orang seru yang memberikan inspirasi agar menjadi diri sendiri yang lebih baik.

Mungkin perjalanan kita bukanlah untuk menemukan cinta, tetapi untuk memahami diri sendiri. Menciptakan sosok yang berbeda dan meninggalkan semua masa lalu yang telah menjadi beban di pundak. Seperti melepaskan balon-balon kenangan satu demi satu ke angkasa.

Suatu saat, kita akan melihat kebelakang dan menyadari, banyak hal baik yang menunggu di depan dan membuat kita bertanya-tanya, kenapa begitu banyak kesempatan yang telah kita lewatkan demi mengejar satu hal yang mungkin memang bukan perjalanan untuk kita. Bukanlah cinta, tapi lebih dari itu. Satu, atau dua hal yang menjadi prioritas tapi kita tak pernah tetap hati untuk memilihnya. (*)