Kenapa Tidak Pernah Ada Yang Bilang?

Dari jauh aku menatap matanya. Kenapa tidak pernah ada yang bilang bahwa bola mata bisa berbicara? Aku bisa melihat warna pelangi, awan yang menari, sampai luruh hujan yang sepi – semua dari kedua matanya yang tak pernah bosan diam-diam aku pandangi, siang malam aku coba sesaki.

Aku tak pernah punya nyali sekedar untuk menyapanya sejak beberapa bulan lalu dia bergabung di kantor ini, apalagi sekadar basa-basi, “Cuaca hari ini sungguh cerah, ya!” yang kemudian aku lanjutkan dalam hati, “secerah rona wajahku setiap kulihat senyum tipismu sambil menatap layar smartphone-mu”. Membayangkan kamu berbicara berjarak dengan orang lain saja rasanya hati ini bergejolak akan rasa cemburu. Tapi siapalah aku, bahkan untuk punya rasa rindu saja aku malu.

Kenapa tidak ada yang pernah bilang bahwa jatuh hati itu nyata? Seandainya bisa aku memaksamu untuk menemaniku setiap waktu menyesap kopi di pagi hari, berlari-lari kecil lalu bergandengan tangan sambil menghindari hujan rintik, juga menyusuri trotoar di bawah kelip lampu-lampu gedung saat malam hari sembari bercerita hal kecil apa yang kamu alami hari ini dan merayakan hal besar karena aku dan kamu, tidak akan terpisahkan.

Tapi, aku tak pernah punya kuasa untuk menyampaikannya. Aku merasa, suatu saat kamu akan tahu dengan sendirinya. Dalam hening, aku menjagamu, dalam riuh aku memujamu. Harapan memang diciptakan untuk tumbuh secara cuma-cuma, bukankah itu sejatinya menjadi manusia?

Terkadang aku berharap, waktu-waktu panjangmu di kantor ini bisa aku penggal. Setengah untuk menatap pijar monitor laptopmu, setengah lagi untuk merekat jemarimu di sela-sela jemariku.

Lalu di ujung malam, tanpa sengaja kamu menatap fotoku bersama kedua sahabatku yang terpajang usang di sudut dinding kantor. Kamu mengamatinya dengan seksama, sungguh lama. Aku sedikit tersipu ketika menyadari itu. “Siapa dia yang di tengah, kenapa aku tak pernah melihatnya di kantor ini, ya?” Sedikit berteriak kamu bertanya tentang aku kepada seseorang di ujung ruang. Wajahku menghangat.

“Oh… Dia dulu karyawan lama, salah satu yang terbaik yang pernah ada, tapi… setahun yang lalu ketika pulang makan siang di luar kantor, dia tertabrak pengendara mobil yang tak bertanggung jawab ketika menyebrang jalan. Dia tak selamat…”.

Kamu terdiam. Aku tercekat. Lalu semua menjadi gelap. Pada akhirnya, aku dan kamu menyelami kesendirian. Bersama. Di dunia berbeda.

Sial, kenapa tidak pernah ada yang bilang jatuh cinta itu menyakitkan? (*)

Jakarta, 9 Desember 2018.

7 thoughts on “Kenapa Tidak Pernah Ada Yang Bilang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.